Gunung Galunggung

From Bencanapedia.ID
Jump to: navigation, search

Jika Anda merasa konten halaman ini masih belum sempurna, Anda dapat berkontribusi untuk menyempurnakan dengan memperbaiki (Edit) atau memperdalam konten naskah ini. Setelah Anda anggap sempurna, silakan hapus koda template {{sempurnakan}} ini. Atau, Anda dapat mengirimkan perbaikan konten naskah ke bencanapedia@gmail.com..

Terimakasih..

Gunung Galunggung adalah salah satu gunungapi yang masih aktif di Indonesia dan dijadikan salah satu objek wisata oleh pemerintah daerah Tasikmalaya, yang memiliki tinggi 2.167 mdpl, yang berlokasi di Desa Linggajati Kecamatan Sukaratu Kebupaten Tasikmalaya, dengan titik kordinat 7.25°LS-7°15'0"LS; 108.058°BT-108°3'30"BT.

Ada 3 jalur alternatif untuk menuju ke kawasan Gunung Galunggung, yang pertama dari arah Bandung lewat Ciawi, di depan Pasar Lama Indihiang belok ke arah kanan + 12 KM, yang kedua dari arah Bandung lewat Ciawi, setelah jembatan Cikunir (Singaparna) belok ke arah kiri + 14 KM, dan yang terakhir dari pusat Kota Tasikmalaya langsung ke arah barat lewat Jalan Bantar-Tawangbenteng + 17 KM  .

Ledakan dan erupsi Gunung Galunggung terjadi akibat adanya peristiwa termodinamik dan tekanan magma. Magma panas yang berada pada lapisan lithosphere/asthenosphere menimbulkan suatu gerakan. Sesuai dengan hukum termodinamika bahwa suatu gerakan akan terjadi akibat adanya magma yang panas. Magma panas yang berdensiti rendah cenderung bergerak ke atas menembus lapis kerak bumi dan lithosphere yang relatif lemah. Letusan gunung api akan terjadi manakala gerakan ke atas magma panas dan gas yang ditimbulkannya menimbulkan tekanan yang besar akibat adanya halangan/sumbatan .

Letusan Gunung Galunggung pada tahun 1982 telah menyebabkan berubahnya peta wilayah pada radius sekitar 20 km dari kawah Galunggung, yaitu mencakup Kecamatan Indihiang, Kecamatan Sukaratu dan Kecamatan Leuwisari. Perubahan peta wilayah tersebut lebih banyak disebabkan oleh terputusnya jaringan jalan dan aliran sungai serta areal perkampungan akibat melimpahnya aliran lava dingin berupa material batuan-kerikil-pasir.

Pada tahun 1984-1990 merupakan masa rehabilitasi kawasan bencana, dengan menata kembali jaringan jalan yang terputus, pengerukan lumpur/pasir pada beberapa aliran sungai dan saluran irigasi, lalu dibangun juga check dam di daerah Sinagar sebagai benteng pengaman meluapnya banjir lahar dingin ke kawasan Kota Tasikmalaya.

Sedangkan pada tahun 1984-1985 karena melimpahnya pasir dan material lainnya akibat dari erupsi Gunung Galunggung maka dibangunlah jaringan jalan kereta api dari dekat stasiun kereta api Indihiang (Kp. Cibungkul-Parakanhonje) ke check dam Sinagar sebagai jalur khusus untuk mengangkut pasir dari Galunggung ke Jakarta.

Gunung Galuggung juga dimanfaatkan sebagai objek wisata dengan luas area kurang lebih 120 hektar di bawah pengelolaan Perum Perhutani. Pengunjung diijinkan untuk mengunjungi kawah Galunggung dengan meniti 620 buah anak tangga. Objek wisata lainnya memiliki luas area 3 hektar yang berupa pemandian air panas (Cipanas) lengkap dengan fasilitas kolam renang, kamar mandi dan bak rendam air serta tersedia juga tempat bermain anak, panggung hiburan, saung ranggon tempat botram (makan-makan), kios wisata serta arena camping.


Periode Letusan

1. Tahun 1822 Pada bulan Juli terjadi ciri-ciri akan meletusnya Gunung Galunggung salah satunya adalah air Cikunir menjadi keruh dan berlumpur. Letusan terjadi pada tanggal 8-12 Oktober, dan letusan tersebut menghasilkan hujan pasir kemerahan yang sangat panas, abu halus, awan panas serta lahar. Dan pada letusan tersebut menewaskan 4.011 jiwa serta menghancurkan 114 desa. 2. Tahun 1894 Letusan terjadi pada tanggal 7-9 Oktober yang menyemburkan awan panas, dan pada tanggal 27 dan 30 Oktober terjadi lahar yang mengalir ke sungai yang sama seperti letusan pada tahun 1822, serta menghancurkan 50 desa. 3. Tahun 1918 Pada tanggal 9 Juli terjadi pemunculan kubah lava di dalam kawah setinggi 85 m dengan ukuran 560 x 440 m yang disebut dengan gunung jadi. 4. Tahun 1982 Letusan terjadi pada April 1982 yang disertai suara dentuman, pijaran api dan kilatan halilintar. Kegiatan letusan berlangsung selama 9 bulan yang berakhir pada tanggal 8 Januari 1983. Hampir selama satu tahun penduduk di sekitar gunung mengungsi. Pada letusan kali ini menewaskan 18 jiwa, dan perkiraan kerugian sekitar Rp 1 miliar dan 22 desa ditinggal tanpa penghuni.

BOX 1:

Masjid Kikisik Masjid Kikisik berada di kaki Gunung Galunggung, tepatnya 5 km dari kawah Gunung Galunggung, dan daerah tersebut masuk dalam daerah bahaya I di komplek Pondok Pesantren Kikisik Desa Gunungsari, Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya. Masjid Kikisik ini luput dari ganasnya terjangan lahar Gunung Galunggung pada letusan tahun 1982. Hampir semua rumah penduduk di daerah tersebut tersapu oleh aliran lahar, namun saat melewati masjid aliran lahar berbelok dan sesepuh agama yang juga menjaga masjid tersebut akhirnya selamat.


Sumber

  1. http://disparbud.tasikmalayakab.go.id/index.php/pariwisata/wisata-alam/gunung-galunggung
  2. Pawirodikmoro, Widodo. 2012. Seismologi Teknik & Rekayasa Kegempaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal: 32