Gunung Rokatenda

From Bencanapedia.ID
(Redirected from Gunungapi Rokatenda)
Jump to: navigation, search
Gunung Rokatenda

Status: Aktif

Tinggi: 875 m dpl atau ± 3000 m di atas dasar laut.

Letak: Kecamatan Awa, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Koordinat: 8°19'LS dan 121°42'30" BT

Info Geologi

Jenis: Gunungapi strato (stratovolcano)

Letusan

Pra 1928, 1928, 1929-1963, 1966, 1972, 1973, 1981, 1984, 1985

Gunung Rokatenda ini terletak di Pulau Palue, sebelah utara Flores Tengah. Secara administratif masuk dalam Kecamatan Awa di pulau Palue bagian utara, Kabupaten Sikka, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Gunungapi ini memiliki ketinggian 875 m di atas permukaan laut atau ± 3000 m di atas dasar laut. Gunungapi dengan Tipe A (strato) ini memiliki Pos Pengamatan di Ropa, Desa Keliwumbu,Kec. Maurole, Ende 86381 (08o 30' 08,34" LS dan 121o 42' 44,10" BT, 5 m dpl).

Paluweh.jpg
Gunung Rokatenda ( © Wikipedia)

Rokatenda memiliki dua buah kawah dan tiga buah kubah lava di puncaknya. Ketiga kubah lava tersebut masing-masing terbentuk pada tahun 1928; 1964 dan 1981, terletak pada pola garis lurus berarah utara -selatan. Lokasi puncak gunungapi ini pada 8°19'LS dan 121°42'30" BT. Kota terdekat dari gunungapi ini adalah Desa Awa yang merupakan pusat Kecamatan di pulau Palue. Sedangkan kampung terdekat di pulau Flores ialah Roka, merupakan kampung pinggir pantai utara Flores.

Jika Anda merasa konten halaman ini masih belum sempurna, Anda dapat berkontribusi untuk menyempurnakan dengan memperbaiki (Edit) atau memperdalam konten naskah ini. Setelah Anda anggap sempurna, silakan hapus koda template {{sempurnakan}} ini. Atau, Anda dapat mengirimkan perbaikan konten naskah ke bencanapedia@gmail.com..

Terimakasih..

Geologi

Gunung Rokatenda merupakan pulau gunungapi yang masih aktif. Geologi gunungapi Rokatenda dipetakan oleh Igan Supriatman S., dkk pada tahun 2000. Hasil pemetaan memisahkan produk Rokatenda tua dan muda. Rokatenda tua dibentuk oleh batuan lava dan aliran piroklastik yang penyebarannya banyak menempati lereng Barat dan Selatan gunung, dan juga terdiri dari sisa-sisa kerucut kecil pada kaki gunung Rokatenda bagian Barat, Baratdaya dan Tenggara. Rokatenda (muda) menghasilkan lava dan aliran piroklastik, juga membentuk gumuk-gumuk kecil antara lain Matomere, Rokatenda dan Ili Manunai.

Sejarah Letusan

Letusan G. Rokatenda bersifat efusif dan eksplosif yang menghasilkan lava dan piroklatik. Akhir dari satu perioda erupsi sering dicirikan oleh pembentukan kubah lava. Penyebaran aliran piroklastik sampai ke pantai (Kampung Awa). Perioda letusan terpendek adalah 1 tahun terjadi antara tahun 1972 dan 1973, keduanya berupa letusan abu. Perioda letusan terpanjang yang tercatat dalam sejarah adalah 35 tahun, terjadi antara tahun 1928 dan 1963, keduanya berupa letusan efusif yang menghasilkan kubah lava pada titik letusan yang sama.

Sejarah erupsi danau Kawah Tiwu Nua Muri Kooh Fai (danau hijau) dapat diringkas sebagai berikut:

Pra 1928

Terjadi letusan hebat kira-kira 200 tahun dihitung berdasarkan keterangan penduduk, sekitar delapan generasi sebelum letusan 1928. Tampak bekas-bekas letusannya berupa lima buah kawah dan sebuah lava dome. Perioda Rokatenda, dengan garis tengah berkisar antara 200 - 700 m.

1928

Terjadi letusan pada 4 Agustus - 25 September, mengakibatkan perubahan lava dome, memperlihatkan bekas letusan berupa empat buah kawah. Letusan mengakibatkan kerusakan tanah, korban manusia sebanyak 266 jiwa, yang sebagian besar disebabkan gelombang pasang laut.

1929-1963

Selama lebih kurang 34 tahun tidak ada kegiatan yang meningkat ataupun terjadi letusan. Kegiatan gunungapi hanya pada kegiatan fumarola saja. Akhirnya pada tahun 1963, menjelang 1 Januari 1964 terjadi getaran gempa setempat, terdengar suara gemuruh di bawah gunung Rokatenda, yang disusul kepulan asap tebal membumbung tinggi di atas gunung Rokatenda, kemudian muncul kubah lava dari titik letusan 1928, disertai guguran lava pijar dan lava dingin. Kegiatan pembentukan kubah lava berlangsung lama, mengakibatkan korban 1 orang tewas dan 3 orang luka-luka. Akhir Juni, ketinggian kubah lava lebih kurang 51 m dari dasar kubah (kawah letusan 1928). Tebal abu 2 cm sepanjang 2 km dari puncak dan 5 cm disekitar puncak.

1966

Terjadi peningkatan kegiatan.

1972

Terjadi letusan dari sebuah kawah samping, bekas letusan 1928, sebelah timur laut kawah utama.

1973

Terjadi letusan abu pada tanggal 27 dan 28 Oktober. Hujan abu tersebar di seluruh pulau, dengan jarak 5000 m dari titik letusan. Ketebalan abu sekitar 3 cm.

1981

Terjadi peningkatan kegiatan, 18 Januari muncul kubah lava baru di antara Gunung Ili Manunai dengan Rokatenda.

1984

Peningkatan kegiatan yang dirasakan penduduk pada tanggal 9 dan 21 Mei, juga pada tanggal 3 dan 7 Juni.

1985

Tanggal 23 Maret 1985, jam 17.40 waktu setempat terjadi letusan selama 45 menit, yang didahului suara gemuruh kecil dilanjutkan dengan letusan, hembusan abu setinggi lebih kurang 1000-2000 m, dengan lontaran material berkisar 200-300 m di atas puncak. Lokasi letusan berasal dari lereng tubuh kubah lava 1981, sebelah Baratlaut dengan ukuran lubang letusan 40 x 30 m, dalamnya dari bibir kawah lebih kurang 20 m. Abu letusan tersebar ke arah Barat dan menutupi kampung-kampung Nitung, Waikoro dan Koa. Ketebalan abu rata-rata 3 mm. Kegiatan menunjukkan adanya pertumbuhan kubah lava.

2008

Oktober, terjadi peningkatan kegempaan

2009

April, terjadi peningkatan kegempaan

Mitigasi

Sistem Pemantauan

Kegiatan G. Rokatenda dipantau secara menerus baik secara visual dan kegempaan dari pos pengamatan di Kampung Kolorongo, Desa Koa Nora, Kabupaten Ende, NTT.

Visual

Pengamatan visual dan cuaca yang meliputi: kenampakan gunung, warna dan tinggi tekanan asap, suhu udara, keadaan cuaca, kelembaban udara, tekanan udara, curah hujan, angin.

Kegempaan

Seismometer penerima gempa dengan sistem radio telemetri dipasang di sebelah timur puncak G. Kelimutu pada posisi geografi 08o 21' 13,00" LS dan 121o 43' 27,40" BT, ketinggian lk. 340 m dml. Sinyal gempa ditransmisikan dengan sistim radio pancar (RTS) ke Pos Pengamatan G. Rokatenda dan direkam dengan pencatat gempa tipe PS-2.

Kawasan Rawan Bencana

Tingkat kerawanan bencana G. Rokatenda dibagi menjadi tiga tingkat (secara berurutan dari tertinggi ke terendah), adalah: Kawasan rawan bencana III, Kawasan rawan bencana II, dan Kawasan rawan bencana I.

Kawasan Rawan Bencana III

Kawasan rawan bencana terhadap awan panas, apabila G.Rokatenda meletus kembali pada masa datang dengan jenis dan tipe erupsi yang relatif identik dengan erupsi-erupsi sebelumnya, kemungkinan akan mengarah terutama ke bagian baratdaya dan timur dengan jarak jangkau maksimum 1,5-1,75 km dari pusat erupsi.
Kawasan rawan bencana terhadap aliran dan guguran lava, apabila pada erupsi mendatang terjadi lagi aliran lava, maka sebarannya diperkirakan hanya di sekitar puncak/di dalam Kawah Rokatenda. Apabila erupsinya membesar, maka kemungkinan lava akan mengalir lebih jauh dari pusat erupsi, dan cenderung akan mengalir ke sektor baratdaya, dan timur dengan jarak jangkau maksimum 1-1,5 km dari pusat erupsi.
Kawasan rawan bencana terhadap material lontaran dan hujan abu lebat, untuk mengantisipasi skala erupsi G. Rokatenda yang relatif lebih besar dari skala erupsi di masa silam, maka radius lingkaran sebaran material lontaran batu pijar berukuran lebih dari 6 cm, dan hujan abu lebat hingga radius 2 km dari pusat erupsi.

Kawasan Rawan Bencana II

Kawasan rawan bencana terhadap awan panas, kawasan rawan bencana II yang kemungkinan terlanda awan panas, adalah sektor baratdaya, dan timur. Apabila skala erupsinya membesar, maka kemungkinan dapat terjadi perluasan aliran awan panas ke arah utara, barat, baratlaut, timurlaut dan tenggara. Jarak jangkaunya diprediksi dapat mencapai jarak lebih dari 3 km dari pusat erupsi (terutama ke arah baratdaya).
Kawasan rawan bencana terhadap aliran lava, apabila pada erupsi yang akan datang terjadi aliran lava, maka sebarannya diperkirakan akan melanda daerah baratdaya (sesuai dengan arah bukaan kawahnya).
Kawasan rawan bencana terhadap material lontaran dan hujan abu lebat, untuk mengantisipasi skala erupsi G.Rokatenda yang relatif lebih besar dari skala erupsi di masa silam, maka radius lingkaran sebaran material lontaran batu pijar dan hujan abu lebat hingga radius 5 km dari pusat erupsi.

Kawasan Rawan Bencana I

Kawasan rawan bencana terhadap aliran lahar, pembentukan lahar kemungkinan besar dapat terjadi di daerah baratdaya, timur, utara, baratlaut dan tenggara.
Kawasan rawan bencana terhadap hujan abu dan material lontaran batu (pijar), untuk mengantisipasi skala erupsi G. Rokatenda yang relatif lebih besar dari skala erupsi di masa silam, maka radius lingkaran sebaran material lontaran batu pijar dan hujan abu dibatasi hingga radius 7 km dari pusat erupsi

Mitos Rokatenda

Asal Usul Gunung Rokatenda : Sebuah Mitos Palu'e [1]

Gunung Rokatenda diyakini oleh sebagian warga Palue sebagai tempat bermukimnya para leluhur atau tempat kehidupan yang baru bagi manusia yang telah dipanggil oleh Sang Pencipta.[2] Pada zaman dahulu kala Gunung Rokatenda bukanlah sebuah gunung apalagi sebuah gunung berapi. Akan tetapi, tempat itu adalah sebuah komo ca atau sebuah danau besar tempat mandinya para Anjo ‘bidadari’. Di tempat ini pula, Ratu[3] yang merupakan salah seorang keturunan dari tanah asal tersebut melangsungkan pertapaan untuk menyucikan diri agar terhindar dari godaan berbuat segala yang jahat.

Ratu adalah seorang pemuda yang terkenal sangat tampan, rupawan, serta lemah-lembut. Dalam menjalani pertapaan inilah Ratu mendapatkan banyak ujian dan godaan. Ketika ia sedang bertapa, datanglah para anjo untuk mandi. Melihat ada seorang pemuda tampan yang sedang menjalani tapa, salah seorang anjo diam-diam menyimpan rasa kagumnya dalam hati. Diam-diam, anjo yang bernama Sali Molo ‘nirmala/bersih sejati’ tersebut mendekati dan menggoda Ratu yang sedang bertapa. Ratu menganggap kehadiran Sali Molo sebagai salah satu bentuk godaan dan ujian sehingga ia tidak menggubris semua godaan tersebut. Sali Molo teramat kagum melihat ketampanan Ratu sehingga ia nekat memeluk dan membelai Ratu dan melupakan keberadaannya sebagai seorang anjo ‘bidadari’.

Penguasa Alam yang mengetahui perbuatan nekat Sali Molo menjadi amat murka. Saat itulah, muncul sebuah suara yang bergema dan berwibawa. Suara itu berujar “Hai manusia yang penuh hawa nafsu karena keinginanmulah maka kau akan menjadi manusia bumi. Namamu, Sali Molo, akan terpanggil orang sebagai Sali yang artinya terbuang. Sementara kau manusia tegar yang mencari penyucian diri, tarikmu telah menodai tempat ini. Untuk itu, daya tarikmu akan Kuubah menjadi sesuatu yang ditakuti manusia. Sejak hari ini, seluruh tubuhmu akan berbulu menyerupai rambut. Namun, kebaikan hatimu akan menjadi buah bibir penduduk tanah ini. Tempat indah yang telah ternodai ini akan menjadi sebuah gunung berapi yang akan menjadi pengingat bagi penduduk di sini akan kekotorannya dan untuk mengenang peristiwa hari ini. Terjadilah semuanya seperti yang telah keluar dari perkataanku”.

Segala sesuatu yang telah dikatakan Sang Penguasa Alam pun terjadi. Setelah mendengar suara itu, Ratu membuka matanya dan melihat semuanya terjadi seperti apa yang telah didengarnya. Ratu melihat seorang perempuan yang ada di sampingnya lalu berkata, “Pergilah dan jalanilah seperti apa yang telah kau dengar. Aku akan tetap hidup di sini bersama saudaraku si Gunung Baru”. Danau indah yang dulu dikenal sebagai Rokatenda berubah sebutannya menjadi Gunung Rokatenda. Dalam rangkaian dua bersaudara, Ratu Rembu dan Ratu Rokatenda akan terus dikenang. Dan Sali yang telah bertukar kehidupan, pergi ke utara dan menetap di sana yang sekarang dikenal dengan kampung Sali. Demikian kisah terjadinya Gunung Rokatenda. (Sumber: Thomas Teki)

Sumber

  1. http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi/data-dasar-gunungapi/483-g-rokatenda
  2. http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi/data-dasar-gunungapi/483-g-rokatenda?start=1
  3. http://footsnote.blogspot.co.id/2011/10/asal-usul-gunung-rokatenda-sebuah-mitos.html
  4. http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi/data-dasar-gunungapi/483-g-rokatenda?start=6

Catatan kaki

  1. Memiliki arti yang membinasakan. Perlindungan dari rencana jahat.
  2. Seperti penuturan dari salah satu warga desa Rokirole yaitu Bapak Joseph Lise Alm., beliau pernah meninggal dunia selama tiga hari. Beliau hampir dikuburkan namun saat itu dia bangun dari mati surinya. Beliau mengisahkan tentang kehidupan setelah mati yang dialaminya selama tiga hari dua malam. Di saat itulah beliau mengalami penjemputan oleh penghuni Gunung Rokatenda. Beliau melihat bahwa Gunung Rokatenda adalah sebuah kerajaan yang besar, damai, dan indah. Di sana juga ada tingkatan kedudukan kepemimpinan untuk mengatur kelompok, suku, hingga kursi tertinggi.
  3. (dalam bahasa Palue) berarti Raja.