Indeks Rawan Bencana Indonesia

From Bencanapedia.ID
Jump to: navigation, search

Jika Anda merasa konten halaman ini masih belum sempurna, Anda dapat berkontribusi untuk menyempurnakan dengan memperbaiki (Edit) atau memperdalam konten naskah ini. Setelah Anda anggap sempurna, silakan hapus koda template {{sempurnakan}} ini. Atau, Anda dapat mengirimkan perbaikan konten naskah ke bencanapedia@gmail.com..

Terimakasih..

Indeks Rawan Bencana Indonesia

Indeks Rawan Bencana Indonesia (IRBI) adalah suatu perangkat analisis kebencanaan yang berbentuk indeks yang menunjukkan riwayat nyata kebencanaan yang telah terjadi dan menimbulkan kerugian di wilayah Indonesia. Buku IRBI diterbitkan oleh Kedeputian Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana dalam menjalankan amanah Undang – Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

DIBI

DIBI adalah portal Data dan Informasi Bencana Indonesia yang merupakan sistem informasi kebencanaan yang berada di bawah naungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia (BNPB) dengan alamat website: http://dibi.bnpb.go.id/.

Wilayah Indonesi secara geologi terletak di atas 3 lempengan dunia, Lempeng Indo-Australia (selatan), Lempeng Eurasia (utara), dan Lempeng Pasifik (timur). Kertiga lempengan tersebut bergerak aktif dan saling bertumbukan. Akibatnya wilayah Indonesia sering terjadi bencana alam, misalnya gempa bumi dan gunung meletus. Atas dasar fakta tersebut diterbitkanlah IRBI dengan tujuan untuk memberikan informasi tingkat kerawanan bencana tiap-tiap kabupaten/kota di Indonesia.

Untuk menyusun IRBI diperlukan sumber berbagai data yang kompleks yang terdiri dari sebagai berikut ;

  1. Tingkat kerawanan bencana : banjir, gempa bumi, gempa bumi dan tsunami, kebakaran permukiman, kekeringan, angin topan, banjir dan tanah longsor, tanah longsor, letusan gunung api, gelombang pasang/abrasi, kebakaran hutan dan lahan, kecelakaan industri, kecelakaan transportasi, konflik/kerusuhan sosial, kejadian luar biasa (KLB).
  2. Jumlah korban meninggal
  3. Jumlah korban luka-luka
  4. Jumlah kerusakan rumah
  5. Jumlah kerusakan fasilitas umum dan infrastruktur rusak yang terjadi pada Kabupaten/Kota
  6. Jumlah Kepadatan Penduduk Kabupaten/Kota

Data-data tersebut akan diperbarui setiap 2 tahun sekali. Dan versi pertama IRBI terbit pada tahun 2009. Pengumpulan data IRBI dilakukan oleh BNPB dan kemudian menjadi database pada Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI) [1]. Data yang digunakan adalah data sejarah kejadian bencana yang dimulai tahun 1815.

Kronika

  • 2008 - Terbit Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BNPB resmi.
  • 2009 - Secara resmi untuk pertama kalinya buku Indeks Rawan Bencana Indonesia terbit dan diperbarui setiap 2 tahun sekali.
  • 2010 - Pertama kali terbit majalah GEMA BNPB dengan tagline “Ketangguhan Bangsa Dalam Menghadapi Bencana”
  • 2010 Oktober - Jurnal Penanggulangan Bencana milik BNPB pertama kali terbit dan terbit 2 tahun sekali.
  • 2013 Januari - BNPB pertama kalinya menerbitkan buletin “INFO BENCANA” yang terbit sebulan sekali.
Salah satu cover edisi Majalah GEMA BNPB
Contoh cover depan IRBI tahun 2011
Halaman depan salah satu edisi buletin INFO BENCANA milik BNPB


Rekomendasi bacaan