Kentongan

From Bencanapedia.ID
Jump to: navigation, search

Jika Anda merasa konten halaman ini masih belum sempurna, Anda dapat berkontribusi untuk menyempurnakan dengan memperbaiki (Edit) atau memperdalam konten naskah ini. Setelah Anda anggap sempurna, silakan hapus koda template {{sempurnakan}} ini. Atau, Anda dapat mengirimkan perbaikan konten naskah ke bencanapedia@gmail.com..

Terimakasih..


KENTONGAN

Kentongan adalah bunyi-bunyian yang berasal dari bambu atau kayu berongga, dibunyikan atau dipukul untuk menyatakan tanda waktu atau tanda bahaya atau mengumpulkan massa. Nama atau sebutan lain untuk kentongan adalah thethekan (Jawa), kulkul (Bali) dan jidor.

Umumnya, kentongan memiliki tingkatan berdasarkan bunyi yang dihasilkan dan ukuran. Ukuran diameternya berkisar antara 40 cm dan tingginya 1 sampai 2 meter. Yang berbunyi paling keras dan berukuran paling besar biasanya dipasang di balai desa. Kemudian kentongan yang berukuran lebih kecil dipasang di kediaman kepala desa/kampung dan yang lebih kecil lagi di rumah-rumah warga.

Fungsi

Selain berfungsi sebagai pemberi tanda, kentongan juga digunakan dalam kegiatan kesenian, salah satunya adalah ketoprak. Dalam ketoprak, kentongan digunakan untuk menandai gending tertentu. Selain itu, kentongan juga digunakan di masjid sebagai penanda waktu beribadah. Beberapa masjid yang memiliki kentongan adalah masjid Demak, masjid di Giri dan masjid di Kotagede serta Imogiri.

Kentongan memiliki bentuk antropomorfik (menyerupai manusia) dan zoomorfik (menyerupai hewan). Di Indonesia, dua jenis kentongan tersebut dapat ditemukan di pulau Jawa, Madura, Bali dan Lombok. Pada kentongan antropomorfik, akan ditemukan hiasan berupa hidung, telinga, atau kepala manusia. Sementara itu kentongan zoomorfik umumnya adalah kentongan berbentuk ikan, katak dan burung meliwis.

Jenis dan Arti Pukulan

Ada beberapa sandi kentongan yaitu doro muluk, titir, kentong sepisan, dan sambang. Doro muluk digunakan saat melakukan pemberitahuan mengenai warga yang meninggal dunia. Jika dipukul sampai tiga kali, yang meninggal adalah orang dewasa. Jika hanya dua kali, yang meninggal adalah anak-anak.

Ciri doro muluk adalah antara pukulan pertama dan kedua terdapat jeda. Selanjutnya pukulan ketiga dan seterusnya semakin cepat dengan suara yang melemah. Saat mencapai titik suara terendah, ada jeda sesaat kemudian nyaring kembali dengan interval yang lebih lambat. Sandi ini umumnya dibunyikan oleh kepala desa/kampung sebagai orang yang paling berwenang.

Titir dibunyikan untuk memberi tahu warga perihal situasi yang sangat berbahaya dan mendadak yang membutuhkan pertolongan segera dari seluruh warga, semisal kebakaran dan bencana alam. Ciri bunyinya adalah kentongan dipukul cepat tanpa nada tinggi atau rendah. Sandi ini boleh dibunyikan oleh siapapun.

Kentong sepisan adalah sandi yang memberitahu atau memanggil seluruh atau sebagian warga untuk berkumpul melakukan musyawarah atau kerja bakit. Nadanya santai dan tenang dengan interval antar pukulan yang teratur.

Sambang umumnya dibunyikan saat dini hari menjelang subuh. Sandi ini mengabarkan pada warga bahwa keadaan aman, masih ada yang berjaga atau belum tidur. Biasanya, setelah ada warga yang membunyikan kentong sambang, akan ada warga lain yang akan membalas.




BOX

Lampor

Di desa/kampung di sepanjang sungai Krasak yang berhulu di lereng Merapi, dikenal istilah lampor. Lampor adalah peringatan/pemberitahuan menggunakan kentongan untuk mengabarkan bahwa banjir telah terjadi di dusun paling atas. Dusun-dusun yang berada di bawahnya akan meneruskan dan suara kentongan mereka akan saling bersahutan. Peringatan ini berguna untuk memberitahu penduduk yang sedang berada di dekat sungai untuk segera menjauh. Namun, lampor juga berkembang menjadi mitos mengenai arak-arakan dari Gunung Merapi menuju Laut Selatan dan sebagian masyarakat percaya bahwa arak-arakan tersebut adalah pertanda bencana alam.


BOX 02

Legenda Kentongan


Dalam kitab Tantu Pagelaran yang ditulis pada tahun 1635 M, dikisahkan bahwa para dewata menghadap Batara Prameswara. Mereka mengadakan pesta minum air amerta (air kehidupan) yang bisa melindungi para dewa dari bahaya. Saat pesta berlangsung, raksasa bernama Rahu menyamar sebagai dewa dan ikut minum air amerta tersebut. Berbeda dengan para dewa yang menggunakan sebagai daun beringin sebagai wadah minum, Rahu menggunakan daun awar-awar. Penyamarannya diketahui oleh Sang Hyang Matahari dan Bulan, kemudian ia dihukum pancung. Namun karena Rahu sempat meminum air tersebut, kepalanya tetap hidup dan ia pun dendam terhadap Sang Hyang Matahari dan Bulan dan caranya membalas dendam adalah dengan memakan matahari atau bulan.

Sementara itu, tubuh Rahu yang jatuh ke bumi berubah menjadi lesung kayu. Saat gerhana matahari atau bulan, penduduk akan memukul lesung dengan irama dengan harapan bahwa tubuh Rahu akan merasakan sakit dan kemudian memuntahkan matahari atau bulan yang dimakannya.