Keterpaparan

From Bencanapedia.ID
Jump to: navigation, search

Jika Anda merasa konten halaman ini masih belum sempurna, Anda dapat berkontribusi untuk menyempurnakan dengan memperbaiki (Edit) atau memperdalam konten naskah ini. Setelah Anda anggap sempurna, silakan hapus koda template {{sempurnakan}} ini. Atau, Anda dapat mengirimkan perbaikan konten naskah ke bencanapedia@gmail.com..

Terimakasih..

Keterpaparan (Exposure)

Keterpaparan dalam bahasa Inggris diambil dari kata exposure, yang diambil dari kata expose yang berarti ‘membiarkan’, menyingkapkan, menganalisis sehingga jelas’; ‘mengatur sinar saat memotret’, dan ‘memamerkan’. Dari kata expose ini pula terbentuk kata: expose yang bermakna ‘pemben­tangan, penjelasan, pembeberan’; dan exposed yang bermakna ‘dibiarkan tanpa perlindungan, terbuka, terbentang’. Masalahnya dalam bahasa Indonesia justru ada istilah paparan, yang bermakna “dasar laut yang datar dan dangkal”, yang maknanya jauh. Dari sini dikenal istilah Paparan Sunda, dan paparan-paparan laon. Berbeda dengan itu dalam kaitannya dengan bencana, keterpaparan dihubungkan dengan penyakit, meskipun ia bisa digunakan untuk konteks lain, sebagai salah satu sebab bencana yang terjadi di tengah masyarakat. Dalam pengertian ini, keterpaparan bermakna kondisi terbukanya orang atau masyarakat yang berada dalam pengaruh atau interaksi dengan unsur penyebab penyakit. Keterpaparan kemudian sering digunakan dan dihubungkan dengan bakteri, racun, nyamuk, dan sejenisnya yang menjadi sebab bencana penyakit, utamanya penyakit menular.


Time Line

Unsur terpenting mengenali keterpaparan adalah jenis penyebab, jangka waktu dan jangkauan penyebaran. Jenis akan menentukan jangka waktu dan jangkauan penyebaran. Jangka waktu menentukan sejauh mana sebuah racun, bakteri, dan mikroba lain sebagai penyebab penyakit melakukan kegiatannya, sampai dia mampu menimbulkan penyakit bagi masyarakat atau orang. Ada jangka waktu tertentu masyarakat terpapar oleh racun atau bakteri tertentu, yang ini tidak sama dialami masyarakat atau orang, tergantung seberapa kuat imunitas dan kekebalan masyarakat dalam merespon racun dan bakteri itu. Kalau kondisi masyarakat itu lemah dan mengalami penurunan, baik psikis atau fisik, dengan sendirinya jangka waktu keterpaparannya lebih pendek di banding dengan mereka yang cukup kuat secara fisik dan psikis.

Sedangkan jangkauan penyebaran menentukan sejauh mana masyarakat atau orang terpapar oleh bakteri, racun atau mikroba tertentu di dalam dirinya. Dalam jangka waktu tertentu, maka keterpaparan bakteri, racun dan mikroba tertentu, akan menjalar ke dalam masyarakat atau orang. Bisa berdaya jangkau kecil, sedang, dan hebat ke seluruh masyarakat, tergantung sejauh mana kekuatan imunitas masyarakat dan individu dalam merespon racun, bakteri dan mikroba tertentu yang menjadi penyebab penyakit; dan sejauh mana penanganan yang dilakukan. Masing-masing masyarakat dan orang akhirnya tidak sama dalam menderita sakit meskipun jenis sakitnya sama, misalnya malaria, karena kondisi masyarakat dan orang, serta jangkauan dan kekuatan keterpaparan, dan kesigapan cara penanganannya yang berbeda-beda.

Di sinilah keterpaparan selalu berhubungan dengan konsep kerentanan. Sebuah masyarakat dan orang yang rentan, akan mudah mengalami bahaya, baik sakit atau terkena bencana. Dalam kaitannya dengan sakit, kerentanan masyarakat atau orang yang ditimbulkan oleh malnutrisi, lingkungan yang tidak sehat, cara hidup yang tidak sehat, dan nihilnya kesiapsiagaan dalam merespon gejala sakit, akan mudah terserang penyakit. Kapasitas dan imunitas dalam diri masyarakat dan orang akan bisa mentralisir dan memperlambat sebuah kemungkinan penyebab merusak yang akan masuk dalam diri mereka lewat keterapaparan bakteri atau virus tertentu.

Untuk menekan dan menurunkan keterpaparan, yang perlu dilakukan adalah melakukan pembersihan dan mengurangi beragam polutan dan kimiawi yang masuk dalam diri masyarakat atau orang yang menjadi penyebab keracunan, menurunnya imunitas tubuh masyarakat dan orang. Menjaga keseimbangan dan selektif dalam memilih apa yang akan dikonsumsi, sesuai dengan asas kebutuhan tubuh, akan menjadi pelindung yang terbaik dari keterpaparan sebuah bakteri, racun, dan mikroba lain yang membahayakan.

BOX I

Kasus Keterpaparan Leptosirosis

Untuk memahami konsep keterparahan bisa diambil contoh dalam kasus keterpaparan dalam Leptosirosis. Ini adalah sejenis penyakit menular disebabkan oleh bakteri Leptospira interogans, golongan spirochaeta yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Gejalanya berupa panas tinggi disertai beberapa gejala saraf serta pembesaran hati dan limpa. Penyakit ini dikenal dengan berbagai nama seperti Mud fever, Slime fever (Shlamn fieber), Swam fever, autumnal fever, infectious jaundice, field fever, cane cutter dan lain-lain. Hewan penular utama pada manusia adalah tikus, anjing, babi, dan beberapa hewan lain.

Infeksi penyakit ini pada manusia dapat terjadi melalui kontak dengan air, tanah, dan lumpur yang tercemar bakter; kontak dengan organ, darah, dan urin hewan yang terinfeksi; mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Sedangkan yang beresiko terpapar bakteri leptospira adalah petani, peternak, pekerja tebu, dokter hewan, penjual susu, dan pada orang-orang yang berhubungan dengan sungai, atau danau yang airnya tercemar denga urine binatang terinfeksi bakteri leptospira. Orang yang terpapar bakteri Leptospira, keterpaparannya mengalami berberapa fase:

  1. 1. Tahap inkubasi pada manusia selama 2-26 hari.
  2. 2. Tahap penyakit dini, dengan muncul demam, batuk kering, nyeri tenggorokan,  nyeri dada, nyeri otot, nyeri kepala, takut cahaya, muntah, dan mata merah. Juga diingat, ada juga penderita yang tidak menunjukkan tanda-tanda seperti yang disebutkan di atas.
  3. 3. Tahap penyakit lanjut, menimbulkan bentuk leptospirosis berat yang ditandai dengan kulit dan mukosa menjadi kuning, disfungsi ginjal, nekrosis hati, disfungsi paru-paru, dan perdarahan.
  4. 4. Tahap penyakit akhir. Pertama, dengan antibiotik antibiotik sebelum penyakit semakin parah. Kedua, sembuh dengan cacat, karena misalnya mengalami komplikasi pada mata (perdarahan subkonjungtiva) bisa mengakibatkan kebutaan bila terjadi perdarahan yang cukup berat. Ketiga,      bila si penderita merasa sudah sembuh dan menghentikan meminum antibiotik, padahal belum habis, maka kuman penyebab leptospirosis itu hanya melemah dan tidak sembuh sempurna, sehingga dapat kambuh sewaktu-waktu jika ada faktor pemicunya.

Sumber:

  1. Widarso HS dan Wilfried. 2002. Kebijaksanaan Departemen Kesehatan dalam Penanggulangan Leptospirosis di Indonesia. Kumpulan Makalah Simposium Leptospirosis. Badan Penerbit Universitas Diponegoro; dan
  2. Widoyono. 2005. Penyakit Tropis: Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan Pemberantasan. Jakarta : Erlangga

BOX II:

Foto Masyarakat terpapar Malaria