Konferensi Nasional PRBBK

From Bencanapedia.ID
Jump to: navigation, search

Konferensi Nasional Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas atau dikenal dengan KN-PRBBK adalah kegiatan tahunan yang diselenggarakana sejak tahun 2004. KN-PRBBK merupakan prakarsa kalangan organisasi masyarakat sipil untuk dapat saling bertukar pengalaman dan pembelajaran, alat-alat serta kerangka kerja untuk membangun jaringan kerja pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas (PRBBK, Community-based Disaster Risk Management - CBDRM).

Tujuan penyelenggaraan

Secara umum KN-PRBBK bertujuan untuk;

  1. Mengembangkan kerangka kerja bersama para pemangku kepentingan dalam mewujudkan pelembagaan gerakan pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas di Indonesia untuk menjawab permasalahan-permasalahan penanggulangan bencana yang konstekstual;
  2. Meningkatnya pembelajaran bersama peserta konferensi dan masyarakat menyangkut tema;
  3. Terumuskannya rekomendasi konferensi, termasuk aspirasi masyarakat, untuk isu terkait tema;
  4. Teridentifikasinya masukan-masukan untuk pemutakhiran Buku ‘Panduan’ PRBBK, khususnya terkait tema dan isu penting lainnya.

Inisiator dan Penyelenggaraan

KN-PRBBK diinisiasi oleh para pihak yang berkepentingan atas pengembangan kerangka kerja dan praktik PRBBK. Inisatif tersebut juga didukung oleh lembaga nasional maupun internasional, seperti Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), UNDP, dan lainnya.

Sebagai ruang bagi-tukar pengalaman dan pembelajaran praktik PRBBK, narasumber atau pembicara kunci berasal dari Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, Akademisi, dan NGO, maupun Komunitas. Sedangkan narasumber pada sesi-sesi diskusi biasanya akan ditetapkan dari hasil penilaian undangan penulisan (Call for Paper).

KN-PRBBK Dari Masa Ke Masa

Simposium CBDRM

Penyelenggaraan pertama dikemas dalam bentuk simposium.

Simposium CBDRM I

Pada bulan Agustus 2004 di Yogyakarta. Simposium memotret berbagai kegiatan PRBBK di lapangan.

Simposium CBDRM II

Di Jakarta menghasilkan Deklarasi Cikini dan sekaligus merumuskan metode, praktik dan kerangka kerja PRBBK.

Simposium CBDRM II

Di ... Hasil Simposium CBDRM III ini digunakan sebagai strategi utama dalam pengurangan risiko bencana nasional yang terangkum dalam buku panduan (Living Guidebook) CBDRM.

Simposium CBDRM IV

Diselenggarakan di Bali. Mempromosikan akuntabilitas negara terhadap Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

KN-PRBBK

Pada tahun 2009, bentuk simposium ini ditransformasi menjadi konferensi. Konferensi ini memfasilitasi perumusan, pemikiran, dan penyebar-luasan PRBBK di Indonesia. Hasil perumusan, pemikiran, dan penyebarluasan ini dirangkum dalam satu catatan, Buku Panduan PRBBK. Buku ini memuat kecirian umum, proses, dan bagaimana PRBBK dijalankan. Selain itu, konferensi ini juga menjadi ajang temu muka dan tukar menukar pengetahuan (market place) bagi para pelaku PRBBK. Proses perumusan, pemikiran, dan penyebarluasan PRBBK perlu dijaga konsistensinya, inilah yang menjadikan konferensi perlu dilaksanakan secara berkala, tahunan.

KN-PRBBK V 2009

Diselenggarakan di Makassar bertujuan mendorong pelembagaan gerakan pengurangan risiko bencana berbasis komunitas sebagai gerakan bersama dengan menjadikan Konferensi Nasional PRBBK (KN PRBBK) yang diselenggarakan secara rutin sebagai salah satu perangkat gerakan ini.

KN-PRBBK VI 2010

Diselenggarakan di Jakarta memotret daerah perkotaan sebagai wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam hal pengerahan sumberdaya, terutama komunitasnya, terkait dengan Pengurangan Risiko Bencana.

KN PRBBK VII 2011

Diselenggarakan di Yogyakarta digunakan untuk melihat bagaimana proses pemulihan dengan menggunakan perspektif PRBBK.

KNPRBBK VII tahun 2011 yang bertempat di Shelter Gondang 1, Dusun Gondang Pusung, Desa Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengambil focus pemulihan pasca bencana. Sedangkan focus KNPRBBK IX tahun 2013 mengmbil focus Perempuan, Anak, Lansia, dan Kelompok Berkebutuhan Khusus Korban sebagai actor utama Ketangguhan Komunitas dalam menghadapi isu kebencanaan.

KN PRBBK VIII

dilaksanakan di Kupang NTT dengan mengangkat tema Kepemilikan, Akuntabilitas dan Tata Kelola PRBBK.

KN-PRBBK IX 2012

Diselenggarakan pada Juni 2013 di Padang digunakan mendorong visibilitas perempuan dan anak perempuan dalam membangun komunitas tangguh bencana. Termasuk di dalamnya berbagai gambaran umum terhadap perhatian dan fakta untuk melindungi perempuan dan anak pada sebelum-saat-setelah bencana. Mengangkat pemahaman atas keadilan gender dan inklusifitas gerakan PRBBK dengan tidak selalu menempatkan perempuan dan anak perempuan sebagai objek yang membutuhkan pertolongan. Salah satu rekomendasi dari pelaksanaan Konferensi Nasional PRBBK IX adalah pemilihan tema tentang ketangguhan masyarakat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil terhadap bencana dan perubahan iklim.


BOX I KNPRBBK IX di Sumatra Barat

Konferensi dilaksanakan pada 1-5 Juni 2013. Tempatnya ada di Nagari Batu Kalang Kecamatan Padang Sago, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Tema konferensi adalah “Perempuan, Anak, Lansia, dan Kelompok Berkebutuhan Khusus Korban, Pelengkap Atau Aktor Utama Ketangguhan Komunitas?” Penyelenggaranya Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Sumatera Barat yang beranggotakan NGO lokal dan Internasional di Sumatera Barat, yaitu: Islamic Relief, Build Change, Walhi, Field Bumi Ceria, LP2M, PKPU, PMI, Limbubu, Lumbung Derma, RAPI, Kogami, Jemari Sakato, BPBD Kabupaten Padang Pariaman, didukung lembaga terkait kebencanaan seperti Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), Pusat Studi Manajemen Bencana LPPM UPN Veteran Yogyakarta, Lingkar,Oxfam, Child Fund Indonesia, MercyCorps, dan BNPB.

Konferensi dihadiri kurang lebih 80 peserta dari berbagai suku dan agama, yang kemudian di bagi menjadi empat kelompok untuk mempertajam tema, yang masing-masing ditempatkan di tempat komunitas masyarakat yang sudah berhasil mengurangi risiko bencana. Para peserta sendiri diinapkan dalam 25 rumah masyarakat Nagari Batu Kalang. Diskusi-diskusi dalam konferensi baik pleno atau tematik mengambil tempat di bawah tenda, sehingga aroma kedekatan dengan masyarakat terdampak bencana sangat kentara. Dukungan pemerintah ditandai dengan pembukaan konferensi yang dilakukan oleh gubernur, dan penutupan oleh wakil gubernur Sumbar. Acara diramaikan dan didukung oleh penampilan-penampilan Indang masyarakat setempat: SD 02 tampil saat pembukaan; dan SD 10 Padang Sago tampil malam kedua; bapak-bapak dan ibu-ibu tampil pada malam penutupan. Menariknya, Indang-indang itu tampil dengan cirri khas ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Karena konsep KNPRBBK IX memberikan penekanan pada basis komunitas sebagaimana tercantum dalam tema yang diusung, maka dirancanglah perwakilan-perwakilan masyarakat untuk memaparkan hasil studi lapangannya dalam rangkaian workshop yang menjadi bahan temuan dan dokumentasi penting konferensi ini. Hasil-hasinya memberikan kesadaran para peserta dan masyarakat sekitar di mana kaum perempuan, anak, lansia dan kelompok berkebutuhan khusus yang selama ini hanya dianggap sebagai korban bencana, juga bisa menjadi aktor utama dalam mendukung ketangguhan komunitas masyarakat menghadapi bencana.

Sumber: Diolah dari berbagai sumber media.

KN-PRBBK X 2013

Penyelenggaraan tahun 2014 merupakan refleksi 10 tahun bencana Tsunami Aceh, (2) akhir masa berlaku Rencana Nasional 2010-2014, (3) tahun terakhir Kerangka Aksi Hyogo 2005-2015 tentang Pengurangan Risiko Bencana untuk Membangun Ketangguhan. Momentum ini diharapkan mengundang para praktisi pengembang masyarakat/komunitas, Pengurangan Risiko Bencana & Adaptasi Perubahan Iklim, & praktisi PRBBK untuk bersama merefleksikan pencapaian dan kegagalan yang terjadi. Masa persiapan maupun pelaksanaan KN PRBBK merupakan kesempatan refleksi dan menata masa depan PRBBK di Indonesia.

Dari KN-PRBBK ini diharapkan mengembangkan kerangka kerja PRBBK yang memastikan ketangguhan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil terhadap bencana (terutama gelombang ekstrem, angin puting beliung, gempa, tsunami, serta dampak perubahan iklim) melalui serangkaian cerita aksi, kegagalan, keberhasilan dan inisiatif praktisi PRBBK di Indonesia bersandar pada kajian sosial-budaya serta multi disiplin ilmu pengetahuan; menjadi ajang berefleksi dengan pengalaman bertahan hidup pada saat dan setelah kejadian tsunami di beberapa wilayah Indonesia. Dengan demikian praktisi PRBBK di Indonesia dapat saling: 1. Berbagi temuan-temuan baru tentang PRBBK 2. Berbagi pengalaman (pengetahuan, ketrampilan, dan perspektif) dalam membangun gerakan PRBBK di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia; 3. Mengidentifikasi masukan-masukan untuk pemutakhiran Buku Panduan PRBBK, khususnya dari lanskap wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil; 4. Menyepakati rekomendasi konferensi sebagai referensi bersama dalam praktik membangun gerakan PRBBK di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dan PRBBK dalam periode 2015-2019.

KN-PRBBK XI 2014

Diselenggarakan di Bengkulu, KN-PRBBK XI berupaya mengembangkan kerangka kerja PRBBK yang memastikan ketangguhan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil terhadap bencana.

KN-PRBBK XII 2015

Diselenggarakan di Surabaya berupaya merefleksikan capaian-capaian PRBBK bersama para praktisi pengembang masyarakat/komunitas, Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim, serta praktisi PRBBK yang telah atau sedang dilakukan, maupun berbagai ide dan gagasan terkait pengurangan risiko bencana lingkungan dan industri.

KN-PRBBK XII 2016

Diselenggarakan di Bandung mengangkat tema “Menjadikan perlindungan sebagai bagian penting ketangguhan komunitas”. Tema ini diharapkan dapat menggarap beragam isu perlindungan, dari perlindungan ekosistem, perlindungan sarana dan prasarana vital, perlindungan sumber produksi dan pasar lokal, dan perlindungan kelompok rentan, termasuk isu-isu perlindungan anak, secara kelompok sebagai berikut:

  1. Perlindungan Anak & Keluarga (a) Perlakuan salah (child abuse), (b) Kekerasan , (c) Penelantaran, dan (d) Eksploitasi
  2. Perlindungan Lingkungan Hidup/Ekosistem
  3. Perlindungan Aset

Isu-isu ini masih jarang dipadukan dalam pengembangan ketangguhan komunitas sampai saat ini. Isu ini masih dianggap ranah terpisah dari pengurangan risiko bencana atau pengurangan kerentanan komunitas, padahal skala kasusnya menunjukkan peningkatan setiap tahunnya.

Tujuan dan Sasaran Konferensi Nasional PRBBK XII

Tujuan KN PRBBK XII ini adalah sebagai media memperkuat dan memperluas gerakan pengurangan risiko bencana di Indonesia yang komprehensif. Isu perlindungan sebagai komponen pengurangan risiko bencana perlu diposisikan lebih proporsional dalam PRB di Indonesia, agar manajemen risiko bencana lebih mampu memenuhi keseimbangan sosial, budaya dan politik dalam mewujudkan ketangguhan secara hakiki sebagai bagian hiidup berkelanjutan. Berbagi pengetahuan dan pengalaman melalui proses dialogis diharapkan mampu menjembatani berbagai kesenjangan dalam upaya PRBBK sekaligus mampu menyuarakan berbagai gagasan dan dukungan yang diperlukan dalam memperkuat perwujudan manusia yang bermartabat sebagai tujuan akhir dari PRBBK.

Capaian yang diharapkan di akhir konferensi

  • Terpetakannya berbagai permasalahan pokok, kebutuhan, dan peran perlindungan asset komunitas dalam PRBBK.
  • Terpetakannya perkembangan PRBBK di Indonesia dan langkah mewujudkan strategi lima tahun ke depan selaras dengan PB di Indonesia.
  • Adanya deklarasi sebagai bentuk komitmen bersama para pihak dalam memperkuat PRBBK sebagai bagian peta jalan (road map) menuju Indonesia tangguh.

KN-PRBBK XIII 2017

Diselenggarakan pada 12-14 September 2017 di Mataram, Nusa Tenggara Barat dengan tema "Menguatkan Tata Kelola Sumber Daya Berbasis Komunitas Menuju Masyarakat Tangguh Bencana". Tujuan penyelenggaraan KN PRBBK 2017 ini adalah sebagai wahana memantau, memperkuat dan memperluas gerakan pengurangan risiko bencana di Indonesia yang komprehensif. Isu penguatan tata kelola sumber daya sebagai komponen pengurangan risiko bencana perlu diposisikan lebih proporsional dalam PRB di Indonesia, agar manajemen risiko bencana lebih mampu memenuhi keseimbangan sosial, budaya, politik dan ekosistem dalam mewujudkan ketangguhan komunitas secara hakiki sebagai bagian hidup berkelanjutan. Berbagi pengetahuan dan pengalaman melalui proses dialogis diharapkan mampu menjembatani berbagai kesenjangan dalam upaya PRBBK sekaligus mampu menyuarakan berbagai gagasan dan dukungan yang diperlukan dalam memperkuat perwujudan manusia yang bermartabat sebagai tujuan akhir dari PRBBK.

Hasil yang hendak dicapai adalah;

  • Terpetakannya berbagai permasalahan pokok, kebutuhan, dan tata kelola sumber daya berbasis komunitas;
  • Disepakatinya perangkat pemantauan dan evaluasi PRBBKdi Indonesia;
  • Adanya kerangka kerja bersama untuk mencapai capaian PRBBK tahun 2018 dan tahun 2019 seperti termaktub dalam deklarasi Bandung (2016).

Pranala/Sumber Naskah

Jika Anda merasa konten halaman ini masih belum sempurna, Anda dapat berkontribusi untuk menyempurnakan dengan memperbaiki (Edit) atau memperdalam konten naskah ini. Setelah Anda anggap sempurna, silakan hapus koda template {{sempurnakan}} ini. Atau, Anda dapat mengirimkan perbaikan konten naskah ke bencanapedia@gmail.com..

Terimakasih..