Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia

From Bencanapedia.ID
Jump to: navigation, search

Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia

Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) adalah organisasi nirlaba yang (didirikan dengan tujuan untuk) berasosiasi dengan para praktisi, ilmuwan, pemerintah, organisasi nasional dan internasional yang bergerak di bidang manajemen bencana.

MPBI didirikan pada tanggal 3 Maret 2003 di Jakarta. Kelahirannya didasarkan pada kesadaran bahwa Indonesia adalah negara rawan bencana yang selama ini tidak dikelola dengan baik. Kekeliruan pengelolaan tersebut kemudian menimbulkan kesenjangan koordinasi, informasi dan kebijakan antar berbagai sektor.


Visi dan Misi

Berdasarkan misi untuk menciptakan masyarakat yang aman dan terlindungi dari bencana, MPBI berupaya menjadi organisasi yang mengadakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana dengan menggunakan Kerangka Aksi Hyogo.

Program-Program

Selain itu, MPBI juga berkomitmen terhadap transformasi penanggulangan bencana yang kemudian diwujudkan dalam berbagai program, antara lain:

1. Inisiasi penyusunan RUU Penanganan bencana (disahkan pada tanggal 26 April 2007 menjadi UU NO. 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana). 2. Mendorong penyusunan peraturan-peraturan turunan dari UU 24/2007 baik di tingkat nasional maupun daerah. 3. Menyusun kerangka kerja Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat (PRBBK) yang didasarkan pada pengalaman lapangan pelaku. 4. Mempromosikan dan menyebarkan standar kemanusiaan bagi para pelaku penanggulangan bencana di Indonesia. 5. Melakukan pengkajian mengenai permasalahan-permasalahan bencana. 6. Melakukan pelatihan-pelatihan mengenai penanggulangan bencana.


Keanggotaan

MPBI membuka kesempatan bagi publik yang ingin bergabung. Keanggotaannya bersifat orang-perorangan, anggota memiliki kewajiban untuk membayar uang pangkal keanggotaan dan iuran berkala dan berhak berpartisipasi dalam kegiatan serta menerima produk dan kemudahan-kemudahan dan organisasi atau lembaga lain dapat berafiliasi dengan MPBI dengan persetujuan presidium. Keterangan mengenai tempat dan program-program MPBI yang lebih lengkap dapat dilihat di website resminya, www.mpbi.org.

Mitra MPBI

Selama berdirinya, MPBI telah bermitra dengan lima kelompok lembaga yaitu, 1. Lembaga Internasional Care International Indonesia UNDP UN OCHA OXFAM GB OXFAM HK UNESCO IFRC HIVOS World Vision Indonesia CORDAID Mercy Corps USAID AUSAID CORDAID

2. Perguruan Tinggi Pusat Studi Kebumian dan Bencana (PSKB) ITS Puskasi STKS Bandung Pusat Studi Manajemen Bencana (PSMB) UPN Veteran Yogyakarta Pusat Mitigasi Bencana (PMB) ITB

3. Lembaga Nasional/Lokal Palang Merah Indonesia (PMI) Kappala Indonesia, Yogyakarta Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen (JKLPK) Yayasan IDEP WALHI Nahdlatul ‘Ulama (NU) Muhammadiyah

4. Pemerintah BNPB Bappenas Kementrian Lingkungan Hidup Departemen Sosial Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) COREMAP LIPI

5. Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta Provinsi DIY Provinsi NAD Provinsi Jawa tengah Provinsi Sumatera Barat Kota Yogyakarta Kota Semarang Kabupaten Ende Kota Padang Kota Banda Aceh Kabupaten Aceh Besar Kabupaten Aceh Barat Kabupaten Aceh Jaya Provinsi Sulawesi Tengah Kabupaten Nias Kabupaten Nias Selatan

BOX

Pendidikan Siaga Bencana (PSB)

Pendidikan Siaga Bencana diadakan berdasarkan mandat UU No. 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana yang harus terintegrasi ke dalam program pembangunan, termasuk dalam sektor pendidikan. Selain itu, dalam UU tersebut ditegaskan juga bahwa pendidikan menjadi salah satu faktor penentu kegiatan pengurangan risiko bencana.

Oleh karena itu, pengambilan peran dalam kegiatan pengurangan risiko bencana merupakakan hak sekaligus kewajiban setiap orang. Institusi resmi dan non-resmi seperti sekolah dan komunitas juga harus mengambil peran untuk mengenalkan materi-materi tentang kebencanaan sebagai bagian dari kegiatan pendidikan sehari-hari.

Tujuan diadakannya pendidikan siaga bencana antara lain; a. Memberi bekal pengetahuan kepada peserta didik tentang adanya risiko bencana yang ada di lingkungannya, berbagai macam jenis bencana dan cara antisipasi/mengurangi risiko yang dapat ditimbulkan bencana. b. Memberi keterampilan agar peserta didik mampu berperan aktif dalam pengurangan risiko bencana baik pada diri sendiri maupun lingkungannya. c. Memberi bekal sikap mental yang positif tentang bencana di Indonesia kepada siswa sejak dini. d. Memberi pemahaman kepada guru tentang bencana, dampak bencana dan penyelamatan diri bila terjadi bencana. e. Member keterampilan pada guru dalam menyusun perencanaan dan melaksanakan pendidikan bencana kepada siswa. f. Memberi wawasan, pengetahuan dan pemahaman bagi pihak terkait, sehingga diharapkan dapat memberi dukungan terhadap kelancaran pelaksanaan pembelajaran tentang bencana.