Penyintas

From Bencanapedia.ID
Jump to: navigation, search

Jika Anda merasa konten halaman ini masih belum sempurna, Anda dapat berkontribusi untuk menyempurnakan dengan memperbaiki (Edit) atau memperdalam konten naskah ini. Setelah Anda anggap sempurna, silakan hapus koda template {{sempurnakan}} ini. Atau, Anda dapat mengirimkan perbaikan konten naskah ke bencanapedia@gmail.com..

Terimakasih..

Dimaksudkan sebagai terjemahan dari bahasa Inggris, survivor (orang yang dapat bertahan hidup). Kata ini muncul untuk menyebut mereka yang bisa bertahan dan selamat dari bencana yang muncul. Asal katanya dari “sintas”, mendapat tambahan pe, menjadi penyintas, yang bermakna orang yang selamat dan bisa bertahan hidup dari bencana. Tujuannya untuk mengganti kata “korban” yang dihubungkan dengan mereka yang selamat. Dengan begitu, bila ada yang bisa selamat dari bencana dengan segala upaya dan usahanya, maka orang itu selayaknya disebut sebagai “penyintas”, bukan disebut sebagai “korban”.

Time Line

Bermula dari keprihatinan yang dirasakan para pegiat penanggulangan bencana di kalangan aktivis, yang merasa bahwa istilah korban, tidak selayaknya digunakan bagi mereka yang selamat dari bencana. Alasanya, istilah korban berkonotasi tidak berdaya dan pasif. Sebagai gambaran bisa dilihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “korban” didefinisikan sebagai “orang, binatang, dan sebagainya yang menderita (mati dan sebagainya) akibat suatu kejadian”. Kalau ini dikaitkan dengan korban bencana yang bisa selamat dan bertahan hidup, tentu kurang memberikan apresiasi yang manusiawi dan kurang relevan.

Untuk menghargai dan mengapresiasi mereka yang selamat dari bencana, dengan segala daya upayanya, telah melakukan berbagai cara agar bisa survive, maka dirasa oleh para aktivis penanggulangan bencana perlu disebut dengan sebutan lain. Setelah dicari-cari, ternyata untuk menyebut mereka ini yang pantas adalah istilah “penyintas”, meskipun mungkin belum begitu akrab teredengar di telinga masyarakat.

Memang tidak jelas siapa pertama kali yang memunculkan istilah ini. Hanya saja, istilah ini diakui banyak pegiat penanggulangan bencana mulai muncul pada tahun 2005 setelah menyaksikan bencana besar Tsunami di Aceh (Desember 2004). Setelah bencana itu sebagian kecil di antara mereka ada yang selamat dengan beragam cerita yang menggugah semangat hidup. Ada yang selamat 5 hari setelah tsunami; ada yang telah berjalan 10 tahun tsunami Aceh, baru ada kabar selamat; dan lain-lain. Orang-orang yang selamat dari bencana inilah yang kemudian disebut penyintas.

Penggunaan kata penyintas kemudian marak di berbagai tulisan dan laman yang mengaitkan dengan mereka yang selamat dari bencana. Di antaranya, digambarkan dalam tulisan Veronica Kusuma dalam judul Asa Baru Perempuan Penyintas (Kompas, 4 Desember 2006). Veronica menggambarkan orang-orang perempuan yang ditinggal oleh suaminya yang mengalami penghilangan paksa dalam berbagai kasus penculikan dan konflik bersenjata. Perempuan-perempuan yang ditingalkan ini, senantiasa menjadi penyintas yang terus berusaha bertahan hidup untuk menanggung keluarga yang ditnggalkan, yaitu anak-anaknya. Orang-orang inilah yang dimaksud sebagai penyintas, bukan dengan istilah korban.

Veronica menulis: “Kasus-kasus penghilangan paksa ini umumnya menimpa laki-laki meski pada beberapa kasus juga menimpa para perempuan. Tetapi, hampir semua kasus penghilangan paksa ditujukan langsung kepada kaum laki-laki. Persoalannya, orang yang ditinggalkan atau penyintas adalah para perempuan…Perempuan sebagai istri, anak, ibu korban mengalami persoalan yang tidak hanya berdimensi umum sebagai persoalan HAM. Persoalan penghilangan paksa sangat berdimensi jender karena perempuan merupakan para penyintas dalam kasus penghilangan paksa. Perempuan yang ditinggalkan mengalami trauma psikologis akibat kehilangan orang yang dikasihi. Perasaan kehilangan dan beratnya mencari keluarga (baik dengan upaya sendiri, bantuan LSM/lembaga advokasi, maupun proses peradilan yang panjang dan berbelit-belit) menjadikan perempuan sangat berisiko menghadapi persoalan psikologis dan kesehatan.”

Memang, dalam penggunaan kata penyintas dalam tulisan Veronica di atas, tidak merujuk pada bencana alam, tetapi bencana kemanusiaan akibat konflik bersenjata dan penculikan. Hanya saja makna dari penyintas, memiliki tendensi yang sama dengan konteks bencana alam, yaitu mereka yang berusaha bertahan hidup di tengah kondisi yang sulit, baik karena bencana atau konflik bersenjata dan penculikan. Penggunaan makna ini telah memperluas makna penyintas di luar sekat-sekat semata untuk menggambarkan mereka yang selamat dari bencana alam, dan ini syah-syah saja, mengacu pada definisi kata “sintas” itu sendiri, yang berarti “terus bertahan hidup, mampu mempertahankan keberadaannya.”


Box I

Weniati atau Raudhatul Jannah (14 tahun) setelah 10 tahun bencana Tunami Aceh.

Kejadian orang yang selamat dari bencana, di antaranya dialami oleh Weniati alias Raudhatul Jannah (14 tahun), sebagaimana diberitakan berbagai media massa cetak dan elektronik di awal Agustus 2014. Cerita itu menggambarkan anak perempuan yang namnya Weniati (dulunya bernama Raudhatul Jannah), yang ditemukan kembali orang tuanya. Saat itu, Weniati diasuh oleh keluarga Mbah Sarwani (62) di Pulau Banyak, Aceh Singkil, sebelum akhirnya dibawa ke Blangpidie. Setelah 10 tahun kejadian Tsunami Aceh, ada seseorang yang mengabarkan kepada Septi Rangkuti, ayahnya Weniati atau Raudhatul Jannah, bahwa di desa Blangpidie ada seseorang anak yang mirip dengan Raudlatul Jannah, yang dulu hilang saat Tsunami Aceh.

Segera setelah itu, Septi Rangkuti dan istrinya bernama Jamaliah, pergi mencari kebenaran informasi itu, sehingga mereka dipertemukan dengan Weniati. Cerita itu bermula ketika Tsunami Aceh, keluarga Septi Rangkuti berjuang dari kematian akibat Tsunami. Septi berupaya menyelamatkan Weniati yang masih balita dan saudara laki-lakinya dengan meraih sebuah papan yang dibawa arus ke dekatnya. Setelah itu, ternyata gelombang tsunami kedua datang dan menghempaskan Weniati dan saudaranya. Anak-anak dan orang tuanya berpisah. Septi Rangkuti sendiri selamat setelah tersangkut di pohon. Ketika tsunami surut, Jamaliah dan Septi terus mencari dua buah hatinya itu, tetapi tidak kunjung bertemu. Karena trauma dan sedih atas musibah ini, pasangan itu meninggalkan desa mereka dan tinggal di Desa Tarigonan, Padang Sidempuan, Provinsi Sumatera Utara. Pada saat yang sama dia masih yakin anaknya hidup, karena sering bermimpi bertemu dengan anaknya itu, dan dari jauh dia masih berusaha mencari informasi tentang anaknya, sambil berdoa kepada Tuhan. Sampai akhirnya dia ditelpon seseorang yang ternyata kakaknya Septi Rangkuti sendiri, yang mengabarkan tentang ada anak yang mirip dengan Raudlatul Jannah di Blangpidie.

Keluarga Sarwani sendiri yang mengasuh Weniati, diceritakan memang mengasuh anak itu, setelah mengadopsinya dari sang penemu anak itu. Sebelumnya anak itu ditemukan terdampar di Pulau Banyak bersama adik laki-lakinya, beberapa saat setelah tsunami menerjang Aceh akhir 2004. Ia ditemukan oleh seorang nelayan. Sarwani adalah orangtua dari nelayan yang menemukan Weniati dan adiknya itu. Pertemuan Kelurga Sarwani, Weniati dan Septi Rangkuti, sungguh mengharukan dan diiringi dengan isak tangis.

Kisah Weniati atau Radlatul Jannah ini, menggambarkan bahwa untuk selamat dari bencana memerlukan perjuangan dan upaya terus menerus. Seorang Septi Rangkuti untuk bisa bertemu dengan anaknya dia harus berjuang keras mencari dan belum bertemu, sampai akhirnya trauma dan memilih tinggal di Sumatra Utara, sambil terus menerus mencari kabar tentang anak-anaknya yang dulu hilang. Kisa-kisah perjuangan seperti inilah yang menggugah dan mengilhami para aktivis kebencanaan untuk menyebut mereka sebagai penyintas, orang yang bisa selamat dan bertahan hidup dari bencana setelah melalui berbagai upaya.