Perubahan iklim

From Bencanapedia.ID
Jump to: navigation, search

Jika Anda merasa konten halaman ini masih belum sempurna, Anda dapat berkontribusi untuk menyempurnakan dengan memperbaiki (Edit) atau memperdalam konten naskah ini. Setelah Anda anggap sempurna, silakan hapus koda template {{sempurnakan}} ini. Atau, Anda dapat mengirimkan perbaikan konten naskah ke bencanapedia@gmail.com..

Terimakasih..

Iklim global yang mengalami perubahan dan berdampak terhadap seluruh kehidupan umat manusia dan alam. Iklim itu sendiri berarti suhu, kelembapan, awan, hujan, dan frekuensi sinar matahari pada suatu daerah dalam jangka waktu yang agak lama, misalnya 30 tahun. Perubahan iklim saat ini dipicu oleh perubahan gas rumah kaca, dimana gas-gas itu mencegah sinar matahari menembus otmesfer bumi. Sebaliknya gas-gas itu menjadikan sinar matahari memantulkan sinarnya kembali dan berbalik lagi ke sebagian angkasa, sehingga menimbulkan efek panas terhadap bumi dan atmosfernya. Efek dari kejadian ini mempengerahui iklim bumi dan menimbulkan kerentanan umat manusia.

Time Line

Perubahan iklim sebenarnya terjadi terus menerus dalam sejarah alam raya dan umat manusia. Karakter dan penyebabnya yang berbeda. Perubahan iklim dimasa lalu disebabkan oleh peristiwa alam, seperti adanya fluktuasi radiasi matahari atau akibat letusan gunung berapi secara berkala. Perubahan iklim yang terjadi pada saat ini dan masa akan datang, berbeda dengan masa lalu, karena pada saat ini lebih disebabkan oleh perbuatan manusia yang mengeksploitasi alam secara serampangan, gegabah, dan tidak sensitif lingkungan.

Di antara bagian dari tangan-tangan manusia yang berdampak pada perubahan iklim ini adalah pembakaran secara besar-besaran batu bara, minyak, kayu, dan pembabatan hutan. Proses ini yang terus menerus dan ceroboh akan menghasilkan gas rumah kaca yang besar. Gas inilah yang biasa disebut dengan gas karbon dioksida, yang alamiah keluar ketika kita menghembuskan nafas, dihasilkan dari pembakaran batu bara, kayu, atau dari penggunaan kendaraan berbahan bakar bensin dan solar.

Memang sebagian gas karbon dioksida ini kemudian diserap kembali melalui proses fotosintesis oleh tanaman. Namun, kini kebanyakan negara memproduksi karbon dioksida jauh lebih besar dan cepat ketimbang kecepatan penyerapannya oleh tanaman atau pohon, sehingga konsentrasinya di atmosfer meningkat secara bertahap. Ini diperparah dengan data-data dibabatnya hutan di seluruh dunia sebagai paru-paru alam raya, meningkat dan sangat mengecewakan pakar-pakar pro lingkungan.

Menurut data badan dunia yang bertugas memonitor isu ini, yaitu Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) telah memperkirakan bahwa antara tahun 1750 dan 2005 konsentrasi karbon dioksida di atmosfer meningkat dari sekitar 280 ppm (parts per million) menjadi 379 ppm per tahun dan sejak itu terus meningkat dengan kecepatan 1,9 ppm per tahun. Akibatnya, pada tahun 2100 nanti suhu global dapat naik antara 1,8 hingga 2,9 derajat (UNOCHA, 2006).

Dampak nyata dari keseluruhan proses ini, yang dikhawatirkan oleh umat manusia adalah pemanasan global. Di antaranya adalah berubahnya iklim tanam yang tidak lagi teratur, dan ini akan menyebabkan kerentanan pada kalangan petani dan semua sumber penghidupan yang diandalkan dari bercocok tanam, sebagaimana bisa dirasakan masyarakat Indonesia. Dampak yang lain adalah ekstremnya cuaca akibat perubahan arus laut di Samudera Pasifik yang menyebabkan air laut menjadi luar biasa hangat (El Nino), sehingga sering terjadi kemarau, terjadi kelangkaan air, dan sejenisnya. Kejadian sebaliknya, arus menjadi amat dingin, yang disebut La Nina, akibat perubahan tekanan atmosfer di belahan dunia sebelah selatan, yang akan mengakibatkan seringnya banjir. Untuk mengatasi perubahan iklim ini tidak bisa dilakukan satu negara saja, tetapi harus ada kemitraan global dalam aksi bersama. Aksi global bersama menyepakati adanya Protokol Kyoto atau Kyoto Protocol to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto mengenai Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim).

Box I

Protokol Kyoto tentang Perubahan Iklim Protokol Kyoto disetujui pada Desember 1997, dan dibuka untuk ditandatangani pada 16 Maret dan ditutup pada 15 Maret 1999. Persetujuan ini mulai berlaku pada 16 Februari 2005 setelah ratifikasi resmi yang dilakukan oleh Rusia pada 18 November 2004. Dalam pertemuan Iklim PBB di Qatar, para delegasi menyepakati untuk memperpanjang Protokol Kyoto sampai 2020, karena protokol yang mengikat secara legal itu berakhir tahun 2012. Perpanjangan ini adalah langkah sementara sambil menunggu perundingan kesepakatan baru yang akan diterapkan tahun 2020. Di antara isi Protokol Kyoto adalah persetujuan di mana negara-negara industri maju diharuskan mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2% dibandingkan dengan tahun 1990. Tujuannya untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca (karbon dioksida, metan, nitrous, nitrous oxide, sulfur, heksaflourida, HFC) yang dihitung sebagai rata-rata selama masa lima tahun antara 2008-2012. Target nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia.