Peta kerentanan

From Bencanapedia.ID
Jump to: navigation, search

Jika Anda merasa konten halaman ini masih belum sempurna, Anda dapat berkontribusi untuk menyempurnakan dengan memperbaiki (Edit) atau memperdalam konten naskah ini. Setelah Anda anggap sempurna, silakan hapus koda template {{sempurnakan}} ini. Atau, Anda dapat mengirimkan perbaikan konten naskah ke bencanapedia@gmail.com..

Terimakasih..

Peta yang menggambarkan kondisi kerentanan masyarakat dalam menghadapi ancaman dan bahaya bencana dalam sebuah wilayah, dalam bentuk kumpulan titik-titik, garis-garis, dan area-area yang didefinisikan oleh lokasinya dengan sistem koordinat tertentu dan oleh atribut non-spasialnya, dan dengan penandaan warna-warna tertentu, secara visual, dengan batasan sesuai dengan skala dan proyeksi tertentu. Sementara kerentanan bencana itu bermakna kondisi yang menciptakan penurunan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman dan bahaya bencana yang mudah terjadi dan berdampak buruk. Peta kerentanan diperlukan dalam pengkajian dan pembuatan peta rawan bencana. Bersamaan peta kerentanan ini, diperlukan juga peta ancaman bahaya bencana dan peta kapasitas. Gabungan dari peta-peta ini akan menggambarkan peta kerawanan bencana dalam sebuah wilayah.


Time Line

Sama dengan pembuatan peta ancaman bahaya bencana, peta kerentanan bisa dibuat oleh siapa saja yang ahli dan mampu untuk kepentingan penanggulangan kebencanaan, sehingga bisa dibuat masyarakat, akademisi, NGO, dan pemerintah. Hanya saja, karena mandat penanggulangan bencana harus dikoordinasikan oleh BNPN, maka BNPB mutlak membuat dan memiliki peta kerentanan bencana di Indonesia, baik di pusat atau di daerah

Pembuatan peta kerentanan, harus mendalami dulu konsep kerentanan kaitannya dengan bencana. Kerentanan bisa terjadi karena sebab-sebab fisik lingkungan dan alam, sebab-sebab keyakinan, sosial ekonomi masyarakat, dan bisa disebabkan oleh kebijakan-kebijakan tertentu. Masyarakat yang rentan bisa jadi disebabkan oleh salah satu, atau dua atau gabungan dari ketiga-tiganya. Dengan demikian, factor penting pembuatan peta kerentanan adalah pendalaman terhadap factor-faktor yang menyebabkan kerentanan.

Dari pembacaan faktor-faktor kerentanan itu, kemudian ditentukan jenis kerentanannya, misalnya untuk wilayah tertentu, kerentanan social ekonomi, dan untuk wilayah yang lain, kerentanannya terletak pada factor lingkungan dan alam, dan begitu steerusnya. Penentuan jenis kerentanan di sebuah wilayah, akan menjadikan peta rentan yang akan dibuat menjadi focus dan tepat sasaran.

Penentuan jenis kerentanan tertentu, harus didukung oleh data-data dan bukti-bukti, yang harus dikumpulkan secara benar dan konprehensif partisipatif. Biasanya, dalam upaya penanggulangan risiko bencana, data-data yang harus didapatkan, salah satunya adalah data-data kerentanan masyarakat dan wilayah. Bisa juga secara khusus pelacakan data-data dimaksudkan untuk membuat peta kerentanan, secara tersendiri. Hanya saja, peta kerentanan, selalu dan berhubungan dengan upaya penanggulangan risiko bencana, sehingga dia sangat berhubungan dan tidak bisa dipisahkan.

Untuk mempermudah pembuatan peta kerentanan, sebagaimana juga peta kapasitas, dan peta ancaman bahaya bencana, bisa dipilah-pilah ke dalam zonasi-zonasi, setelah jenis kerentanannya telah dipilih dan diketahui. Zona itu sendiri bermakna daerah dengan pembatasan-pembatasan khusus yang ditentukan dengan kondisi-kondisi tertentu. Dengan pembagian zonasi ini, akan didapatkan zona-zona yang terlebih dulu harus dibuat peta atau penetuan skala prioritas, yang itu bisa diketahui dari data peta ancaman bahayanya yang besar atau sangat tinggi.

Data-data yang diperlukan harus diperoleh melalui bukti-bukti, penyelidikan lapangan, survei, FGD, studi dokumen, dan lain-lain. Data-data yang harus ditemukan adalah data-data primer dari unsur-unsur kerentanan, seperti fisik-lingkungan-alam dan kondisi sosial-ekonomi, beserta indikator-indikator yang digunakan. Data-data penunjangnya adalah adanya peta ancaman bahaya bencana di sebuah wilayah. Ketika data-data diyakini sudah bisa dikumpulkan dan memenuhi tujuan pembuatan peta kerentanan, data-data itu tentu masih harus didiskusikan di tim kerja, sebelum akhirnya dibuat dan dituangkan dalam bentuk sebuah peta.

Hasil dari pembuatan peta kerentanan adalah penilaian atas kerentanan yang ada di sebuah wilayah, dan bentuknya bisa bermacam-macam dan bervariasi, terganutng jenis kerentanan yang ingin digambarkan, misalnya kerentanan tanah, sosial-ekonomi, dan lain-lain. Akan tetapi hasil-hasil itu harus melakukan penilaian tertentu, misalnay untuk sebuah wilayah, memiliki tingkat kerentanan sosial ekonomi, krentanan tanah, dan sejenisnya dengan penilaian: sangat tinggi, sedang, rendah, dan sejenisnya.

BoxI

Peta Kerentanan Sosial Ekonomi BNPB, 2009 Dalam peta di bawah ini, BNPB menggambarkan peta kerentanan sosial ekonomi di Indonesia yang dilansir tahun 2009. Dalam peta ini, sama dengan peta risiko bencana yang dibuat BNPB tahun 2010, penggambarannya menggunakan warna merah untuk menunjukkan tingkat risikonya tinggi, kuning untuk menunjukkan tingkat risikonya rendah, dan hijau untuk menggambarkan tingkat risiko bencananya rendah. Melihat peta di bawah ini, tampak sebagian besar wilayah di Indonesia memiliki tingkat kerentanan social ekonomi yang sedang, setelah itu tingkat kedua (tinggi), dan hanya sedikit yang tingkatnya rendah. Di bawah ini adalah contoh peta yang menggambarkan tingkat kerentanan sosial ekonomi yang dibuat BNPB tahun 2009: