Peta risiko

From Bencanapedia.ID
Jump to: navigation, search

Jika Anda merasa konten halaman ini masih belum sempurna, Anda dapat berkontribusi untuk menyempurnakan dengan memperbaiki (Edit) atau memperdalam konten naskah ini. Setelah Anda anggap sempurna, silakan hapus koda template {{sempurnakan}} ini. Atau, Anda dapat mengirimkan perbaikan konten naskah ke bencanapedia@gmail.com..

Terimakasih..

Peta yang menggambarkan risiko bencana yang dihadapi masyarakat dalam suatu wilayah, dalam bentuk kumpulan titik-titik, garis-garis, dan area-area yang didefinisikan oleh lokasinya dengan sistem koordinat tertentu dan oleh atribut non-spasialnya, dan dengan warna tertentu, dan secara visual, dengan batasan sesuai dengan skala dan proyeksi tertentu. Sementara risiko bencana sendiri bermakna potensi kerugian yang ditimbulkan oleh bencana pada suatu kawasan dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat. Peta risiko bencana bisa bermacam-macam, tergantung dari jenis ancaman dan bahaya yang ada di sebuah wilayah, misalnya peta risiko bencana kekeringan, peta risiko bencana gunungapi, dan lain-lain. Peta risiko bencana ini mutlak diperlukan dalam upaya melakukan penanggulangan bencana.

Time Line

Menurut Perka No. 2 tahun 2012 tentang pedoman pengkajian risiko bencana, salah satunya menyebutkan bahwa pengkajian risiko bencana dapat dilaksanakan oleh lembaga mana pun, baik akademisi, dunia usaha maupun LSM atau pun organisasi lainnya asal tetap dibawah tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah dengan menggunakan metode yang telah ditetapkan oleh BNPB. Dengan demikian, peta risiko bencana sebagai bagian dari pengkajian risiko bencana juga bisa dibuat oleh siapa saja, sesuai dengan kebutuhan, dan keahliannya. Hanya saja, dalam upaya penanggulangan bencana nasional, BNPB diberi mandat untuk mengkoordinirnya, dan karenanya mutlak memliki peta-peta ini.

Peta Risiko bencana dibuat dengan mendasarkan pada peta ancaman bahaya bencana, peta kerentanan bencana, dan peta kapasitas. Peta risiko harus bisa menemukan tingkat risiko yang dihadapi masyarakat, dengan membandingkan tingkat kerugian yang akan dialami dengan Kapasitas Daerah untuk memperkecil tingkat kerugian dan tingkat ancaman akibat bencana. Rumus untuk menemukan tingkat risiko bencana adalah tingkat ancaman di sebuah wilayah dikalikan tingkat kerentanan dan kemudian dibagi dengan tingkat kapasitas.

Semakin besar kapasitas yang dimiliki masyarakat untuk bisa mengurangi ancaman bencana, maka semakin kecil tingkat risiko bencana yang akan dihadapi masyarakat itu. Demikian pula, bila tingkat ancaman dan kerentanannya lebih besar dari tingkat kapasitasnya maka masyarakat itu akan menghadapi tingkat risiko bencana yang lebih besar. Dengan kata lain, bila data-data dalam peta ancaman kecil, peta kerentanannya juga berkurang atau kecil, dan kapasitas meningkat, maka tingkat risiko bencana kecil di kaitkan dengan ancaman atas sebuah bahaya tertentu.

Menurut Perka BNPB No 2 tahun 2012, pada peta di bawah terlihat bahwa Peta Risiko Bencana merupakan overlay (penggabungan) dari Peta Ancaman, Peta Kerentanan dan Peta Kapasitas. Peta-peta tersebut diperoleh dari berbagai indeks yang dihitung dari data-data dan metode perhitungan tersendiri. Penting untuk dicatat bahwa peta risiko bencana dibuat untuk setiap jenis ancaman bencana yang ada pada suatu kawasan. Metode perhitungan dan data yang dibutuhkan untuk menghitung berbagai indeks akan berbeda untuk setiap jenis ancaman.

Indikator-indikator yang ditemukan harus jelas dan terukur untuk bisa sampai pada kesimpulan tingkat risiko bencana tertentu, yang bisa dituangkan dalam dokumen kajian risiko bencana. Misalnya, untuk sampai pada penilaian bahwa sebuah wilayah tingkat risiko bencananya kecil, sedang, dan tinggi atau sangat tinggi, harus disebutkan indikator-indikatornya. Untuk daerah dengan tingkat risiko bencana yang tinggi, bisa dilihat misalnya: tingkat kapasitas yang dimiliki masyarakat kecil; pemerintah setempat tidak memeliki kebijakan pengurangan risiko bencana; tidak ada peraturan yang bisa digunakan untuk upaya penanggulangan bencana; dan lain-lain. Pada saat yang sama, indicator-indikator di dalam ancaman dan kerentanan membengkak. ` Di bawah ini, adalah gambar yang menjelaskan alur metode penyusunan peta bencana yang direkomendasikan oleh BNPB, berdasarkan Perka No 2 tahun 2012.

Skema Proses Peta Risiko.jpg

Sumber: Perka BNPB No. 2 tahun 2012

Penggalian data-data untuk membuat peta risiko bencana adalah bagian dari kerja-kerja yang dilakukan dalam pengkajian risiko bencana. Sebab kajian risiko bencana ini salah satunya, harus bisa menghasilkan peta risiko bencana (di samping akan menghasilkan dokumen kajian risiko bencana), yang di dalamnya harus bisa memperoleh data dan segala bentuk rekaman kejadian yang ada; integrasi analisis probabilitas kejadian ancaman dari para ahli dengan kearifan lokal masyarakat; dan kemampuan untuk menghitung potensi jumlah jiwa terpapar, kerugian harta benda dan kerusakan lingkungan. Karena peta risiko bencana harus menghasilkan penilaian tingkat risiko bencana di sebuah wlayah, maka hasil dari tingkat risiko bencana bisa dinilai dengan sangat tinggi, sedang, dan rendah. Bila dijabarkan dalam peta, penilaian tingkat risiko bencana bisa dibuat dengan cara pemberian warna tertentu yang berbeda, setelah berhasil ditemukan indicator-indikator yang terukur. Peta ririko bencana inilah, bersamaan dengan dokumen pengkajian risiko bencana akan menjadi pijakan kebijakan penanggulangan bencana.

Box I

Peta Risko Gunung Api Jawa Timur, BNPB, 2010

Dalam peta di bawah ini, BNPB menggambarkan peta risiko bencana gunung api di wilayah Jawa Timur. Dalam peta ini, penggambarannya menggunakan warna merah untuk menunjukkan tingkat risikonya tinggi, kuning untuk menunjukkan tingkat risikonya sedang, dan hijau untuk menggambarkan tingkat risiko bencananya rendah. Melihat peta di bawah ini, tampak wilayah Jawa timur memiliki tingkat risiko bencana gunung api tinggi, karena di wilayah ini terdapat banyak gunung api dan ditandai dengan warna merah. Hanya saja, frekuensi, jenis letusan, dan karakternya yang tentu saja berbeda satu sama lain. Di bawah ini, adalah contoh peta risiko gunung api yang dibuat BNPB tahun 2010 di Jawa Timur: