Sendai Framework

From Bencanapedia.ID
Jump to: navigation, search

Deklarasi Sendai

We, the Heads of State and Government, ministers and delegates participating in the Third United Nations World Conference on Disaster Risk Reduction, have gathered from 14 to 18 March 2015 in Sendai City, Miyagi Prefecture, Japan, which has demonstrated a vibrant recovery from the great east Japan earthquake in March 2011. Recognizing the increasing impact of disasters and their complexity in many parts of the world, we declare our determination to enhance our efforts to strengthen disaster risk reduction to reduce losses of lives and assets from disasters worldwide.

We value the important role played by the Hyogo Framework for Action 2005–2015: Building the Resilience of Nations and Communities to Disasters during the past 10 years. Having completed the assessment and review of and considered the experience gained under its implementation, we hereby adopt the Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030. We are strongly committed to the implementation of the new framework as the guide to enhance our efforts for the future.

We call all stakeholders to action, aware that the realization of the new framework depends on our unceasing and tireless collective efforts to make the world safer from the risk of disasters in the decades to come for the benefit of the present and future generations.

We thank the people and the Government of Japan as well as the City of Sendai for hosting the Third United Nations World Conference on Disaster Risk Reduction and extend our appreciation to Japan for its commitment to advancing disaster risk reduction in the global development agenda.


Jika Anda merasa konten halaman ini masih belum sempurna, Anda dapat berkontribusi untuk menyempurnakan dengan memperbaiki (Edit) atau memperdalam konten naskah ini. Setelah Anda anggap sempurna, silakan hapus koda template {{sempurnakan}} ini. Atau, Anda dapat mengirimkan perbaikan konten naskah ke bencanapedia@gmail.com..

Terimakasih..

Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015-2030 merupakan acuan kerja dalam aktivitas pengurangan risiko bencana yang disepakati 187 negara dan diresmikan penggunaannya dalam Konferensi Dunia Ketiga PBB di Sendai, Jepang, 8 Maret 2015.

Kerangka Kerja Sendai sebagai Penyempurna HFA

Keberadaan HFA telah memberikan dampak positif dalam pengurangan risiko bencana dari mulai skala dunia sampai dengan skala lokal. Dengan berdasarkan pada panduan yang tertuang pada HFA, negara-negara di dunia, termasuk Indonesia telah meningkatkan kapasitas mereka dalam penanggulangan risiko bencana. Selain itu, pengarahan, koordinasi, dan kerja sama oleh aktor-aktor internasional dalam skema HFA telah mendukung pembentukan kebijakan dan aksi di berbagai skala dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Namun demikian, berkurangnya risiko bencana tidak berarti bahwa angka risiko bencana di dunia yang tercatat tidak signifikan. PBB mencatat bahwa dalam 10 tahun (2005-2015) setidaknya 700,000 korban jiwa, lebih dari 1,4 juta korban luka, 23 juta orang kehilangan tempat tinggal dan kerugian ekonomi yang mencapai angka $1,3 trilliun. Penurunan kerentanan yang sering kali disebutkan dalam pencapaian HFA ternyata tidak setara dengan besarnya risiko bencana dalam bidang ekonomi, sosial, kesehatan, budaya, dan lingkungan yang terjadi dalam masa berlaku HFA. Tentunya, risiko bencana tersebut berdampak khusunya pada skala lokal dan/atau semua kalangan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan langkah antisipasi, perencanaan, dan upaya pengurangan risiko bencana untuk melindungi masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan, sehingga terjadi peningkatan juga dalam ketahanan masyarakat.

Tepat pada habisnya masa berlaku HFA, 2015, masyarakat internasional telah menyiapkan kerangka kerja yang lebih komprehensif. Kerangka kerja lanjutan HFA yang disebut Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana ini diberlakukan dengan mengutamakan penanganan berbagai faktor yang mempengaruhi timbulnya risiko bencana seperti kemiskinan dan ketidakadilan, perubahan iklim, urbanisasi dalam jumlah besar dan tidak terarah, tata kota yang tidak teratur, perubahan demografi, sistem pemerintahan yang lemah, kurangnya peraturan dan perhatian terhadap pengurangan risiko bencana, keterbatasan teknologi, pandemik dan epidemik, eksploitasi sumber daya alam, serta penurunan ekosistem. Penguatan sistem penanganan pengurangan risiko bencana di level dunia, regional, dan nasional dalam kerangka kerja Sendai juga didukung dengan upaya pengurangan risiko bencana dengan pendekatan yang berpusat pada masyarakat. Melalui Kerangka Kerja Sendai, diharapkan agar upaya pengurangan risiko bencana dapat bersifat multisektor, inklusif dan mudah diakses oleh semua kalangan. Selain itu, agar dapat berjalan secara efektif dan efisien, disebutkan dalam Kerangka Kerja Sendai bahwa upaya pengurangan risiko bencana –perancangan dan pelaksanaan, perlu melibatkan berbagai kalangan masyarakat, termasuk perempuan, anak-anak dan pemuda, orang yang berkebutuhan khusus, dan seluruh masyarakat dari semua golongan ekonomi dan social. Dengan demikian, Kerangka Kerja Sendai diberlakukan untuk memastikan bahwa upaya pengurangan risiko bencana mencakup berbagai skala dan berbagai jenis bencana seperti bencana alam dan bencana akibat ulah manusia –terkait dengan lingkungan, teknologi, dan risiko serta ancaman biologis, dengan mengaitkan pembangungan di semua level dan melibatkan semua sektor dalam pengelolaannya.

Kerangka Kerja Sendai juga merupakan instrumen turunan dari Kerangka Aksi Hyogo (HFA) tahun 2005–2015: Membangun Ketahanan Negara dan Masyarakat terhadap Bencana. HFA dianggap mampu mendorong pekerjaan global di bawah Kerangka Aksi Internasional untuk Dekade Pengurangan Resiko Bencana Alami Internasional tahun 1989 dan Strategi Yokohama untuk Dunia yang Lebih Aman: Panduan untuk Pencegahan Persiapan dan Mitigasi Bencana Alami serta Rencana Aksinya, yang diadopsi pada tahun 1994 dan Strategi Internasional untuk Pengurangan Bencana tahun 1999.

Kerangka Kerja Sendai disusun menggunakan elemen-elemen yang dapat memastikan keberlanjutan pekerjaan yang telah dilakukan oleh negara-negara dan pemangku kepentingan di bawah HFA dan mengenalkan beberapa inovasi yang disarankan dalam konsultasi dan negosiasi.

Banyak komentator menyebutkan bahwa perubahan terpenting dalam kerangka kerja ini adalah penekanannya terhadap Manajemen Resiko bencana dan bukan lagi Manajemen Bencana. Kerangka ini mendefinisikan tujuh target global dan keluaran pengurangan resiko bencana dengan fokus tujuan adalah pada pencegahan munculnya risiko baru, mengurangi risiko yang ada dan memperkuat ketahanan, juga menghasilkan prinsip-prinsip panduan, termasuk tanggung jawab utama negara dalam mencegah dan mengurangi risiko bencana, keterlibatan seluruh institusi masyarakat dan negara.

Selain itu, lingkup pengurangan risiko bencana telah diperluas secara signifikan, di mana fokus diberikan pada bahaya alami dan buatan manusia, serta yang terkait dengan bahaya dan risiko lingkungan, teknologi dan biologi. Ketahanan kesehatan juga dikampanyekan dengan kuat. Dan UNISDR ditugaskan memastikan penerapan, pelaksanaan dan peninjauan Kerangka Kerja Sendai.

Hasil dan tujuan yang diharapkan

Dibangun dari Kerangka Aksi Hyogo, Kerangka kerja Sendai bertujuan untuk mencapai hasil berikut dalam 15 tahun ke depan adalah:

Pengurangan risiko dan kerugiaan jiwa akibat bencana yang substansial, mata pencaharian dan kesehatan serta aset ekonomi, fisik, sosial, bidaya dan lingkungan tiap orang, bisnis, komunitas dan negara.

Untuk mencapai hasil yang diharapkan, gol-gol berikut harus dicapai:

Mencegah resiko bencana baru dan mengurangi resiko bencana yang sudah ada melalui penerapan pengukuran ekonomi, struktur, hukum, sosial, kesehatan, kebudayaan, pendidikan, lingkungan hidup, teknologi, politik dan institusi yang terintegrasi dan terinklusi sehingga dapat mencegah dan mengurangi terpaan bahaya serta kerentanan akan bencana, meningkatkan kesiapan untuk respon dan pemulihan, sehingga juga memperkuat ketahanan.

7 target global

  1. Mengurangi secara substansial tingkat kematian global akibat bencana di tahun 2030, menuju penurunan rata-rata tingkat kematian global per 100.000 dalam dekade 2020 - 2030 dibandingkan dengan periode 2005 – 2015.
  2. Secara substansial mengurangi jumlah orang yang terkena dampak secara global di tahun 2030, bertujuan menurunkan angka rata-rata global per 100.000 di dekade 2020 – 2030 dibandingkan dengan periode 2005 – 2015.
  3. Mengurangi kerugian ekonomi langsung akibat bencana dalam kaitannya dengan Produk Domestik Bruto (GDP) di tahun 2030.
  4. Secara substansial mengurangi kerusakan akibat bencana pada infrastruktur penting dan gangguan pada layanan dasar, di antaranya fasilitas kesehatan dan pendidikan, termasuk melalui pembangunan ketahanan mereka pada tahun 2030.
  5. Secara substansial meningkatkan jumlah negara yang memiliki strategi pengurangan resiko bencana nasional dan lokal pada tahun 2020.
  6. Meningkatkan kerja sama internasional secara substansial untuk negara berkembang melalui dukungan yang memadai dan berkelanjutan untuk mendukung aksi nasional mereka dalam mengimplementasikan Kerangka Kerja ini di tahun 2030.
  7. Secara substansial meningkatkan ketersediaan dan akses ke sistem peringatan dini multi bahaya dan informasi resiko bencana serta asesmen bagi orang di tahun 2030.

Prioritas aksi

Prioritas 1

Memahami Risiko Bencana

Prioritas 2

Penguatan tata kelola risiko bencana untuk mengelola risiko bencana

Prioritas 3

Investasi dalam pengurangan risiko bencana untuk ketahanan

Prioritas 4

Meningkatkan kesiapsiagaan bencana untuk respon yang efektif dan untuk “Membangun Kembali Lebih Baik” dalam pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi

Peran pemangku kepentingan

Kerjasama internasional dan kemitraan global

Sendaiframework-bahasa.png

Pranala

Kontributor tulisan

  • Nangtok
  • Dwi Prameswari