Sistem Peringatan Dini

From Bencanapedia.ID
(Redirected from Sistem peringatan dini)
Jump to: navigation, search

Jika Anda merasa konten halaman ini masih belum sempurna, Anda dapat berkontribusi untuk menyempurnakan dengan memperbaiki (Edit) atau memperdalam konten naskah ini. Setelah Anda anggap sempurna, silakan hapus koda template {{sempurnakan}} ini. Atau, Anda dapat mengirimkan perbaikan konten naskah ke bencanapedia@gmail.com..

Terimakasih..

Sistem Peringatan Dini

Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) adalah subsistem awal dalam kegiatan kesiapsiagaan agar masyarakat dan jajaran kesehatan di provinsi dan kabupaten/kota terutama daerah potensi bencana dapat lebih mempersiapkan diri menghadapi bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi.1

Sistem peringatan dini yang efektif membutuhkan dasar teknis yang kuat dan pengetahuan mengenai resiko yang baik. Selain itu, sistem ini harus sangat berkonsentrasi pada orang dengan pesan yang jelas, sistem diseminasi yang mencapai mereka yang berada dalam resiko, dan dipraktekkan oleh pengelola resiko dan masyarakat. Untuk itu, kesadaran dan pendidikan publik, serta keterlibatan banyak pihak sangat dibutuhkan. Sistem peringatan dini harus ditanamkan dengan cara yang dapat dimengerti dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Empat Elemen Dalam Sistem Peringatan Dini terpadu

1. Pengetahuan tentang resiko. Resiko akan muncul dari kombinasi adanya bahaya dan kerentanan di lokasi tertentu. Kajian terhadap resiko bencana memerlukan pengumpulan dan analisis data yang sistematis dari bahaya dan kerentanan yang muncul dari berbagai proses seperti urbanisasi, perubahan pemanfaatan lahan, penurunan kualitas lingkungan dan perubahan iklim. Kajian dan peta resiko bencana akan membantu memotivasi orang sehingga mereka akan memprioritaskan kebutuhan sistem peringatan dini dan penyiapan panduan untuk mencegah dan menanggulangi bencana. Dalam kaitan ini perlu diperhatikan hal-hal seperti apakah bahaya dan kerentanan sudah dikenal dengan baik, bagaimana pola dan tren dari faktor-faktor yang mempengaruhi, serta apakah data dan peta resiko telah tersedia. Jika seluruh hal tersebut dapat dijawab/dilakukan, pengetahuan tentang resiko bencana alam akan semakin baik dan bisa menjadi langkah awal dalam membangun sistem peringatan dini yang baik.

2. Pemantauan dan Layanan Peringatan. Layanan peringatan adalah inti sistem. Harus ada dasar ilmiah yang kuat untuk dapat memprediksi bahaya dan harus ada sistem predisi serta peringatan yang beroperasi 24 jam. Pemantauan yang terus-menerus terhadap parameter bahaya dan gejala-gejala awalnya sangat penting untuk pembuatan peringatan yang akurat dan tepat waktu. Layanan peringatan untuk bahaya yang berbeda-beda sedapat mungkin harus dikoordinasikan dengan memanfaatkan jaringan kelembagaan, procedural dan komunikasi yang tersedia.

3. Komunikasi dan Penyebarluasan. Peringatan harus menjangkau semua orang yang terancam bahaya. Pesan yang disampaikan harus jelas dan berisi informasi sederhana namun berguna. Sistem komunikasi tingkat regional, nasional dan masyarakat harus diidentifikasi terlebih dahulu dan pemegang kewenangan yang sesuai harus terbentuk. Penggunaan berbagai saluran komunikasi sangat diperlukan untuk menyebarkan informasi dan peringatan seluas-luasnya, menghindari terjadinya kegagalan di salah satu salaran dan memperkuat pesan peringatan.

4. Kemampuan Merespon Atau Penanggulangan. Masyarakat harus memahami bahaya yang mengancam mereka. Ini penting, sehingga mereka bisa mematuhi layanan peringatan dan mengetahui bagaimana mereka harus bereaksi. Program pendidikan dan kesiapsiagaan memiliki peran yang penting untuk hal tersebut. Berikut juga rencana penanganan bencana yang dilaksanakan dengan tepat dan teruji. Masyarakat harus mendapat informasi yang lengkap mengenai pilihan perilaku yang aman, ketersediaan rute penyelamatan diri dan cara terbaik untuk menghindari kerusakan dan kehilangan harta benda. Terkait dengan hal tersebut, pemerintah telah berulang kali melaksanakan program pendidikan dan penyuluhan serta kesiapsiagaan menghadapi bencana alam dalam bentuk simulasi penyelamatan diri. Program ini melibatkan masyarakat terutama yang tinggal di kawasan dan sekitar kawasan bencana baik yang di kawasan pesisir, dataran rendah maupun dataran tinggi.2