Skala dampak

From Bencanapedia.ID
Jump to: navigation, search

Skala pada umumnya digunakan untuk melakukan pengukuran ataupun sebagai pembanding atas satu entitas tertentu. Dampak secara sederhana dimengerti sebagai pengaruh, benturan, efek, ekses atau hasil dari sesuatu yang mendatangkan akibat (positif-negatif, langsung-tidak langsung, dengan rentang waktu yang relatif panjang dan jangkauan/cakupan wilayahnya lebih luas).

Pengertian dan Dampak

Terjemahan dan pengertian dari impact agaknya tidak mudah, karena negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahas nasionalnya pun masih berbeda-beda mengenai pengertiannya. Beberapa negara seperti Kanada dan Australia, misalnya, masih ada yang menggunakan istilah effect dengan arti yang sama dan sering pula dengan arti yang berbeda.

Kalau diambil dari kamus bahasa, maka istilah impact mempunyai arti sama dengan crashing, collision, effect. Sedangkan dampak mempunyai arti tubrukan, benturan, pengaruh. Ingie Hovland (2007), menyebutkan; Untuk memahami konsep dampak, perlu untuk memahami beberapa istilah kunci yang digunakan dalam bidang ini (monitoring dan evaluasi), yaitu: keluaran (output), hasil (outcome), dan dampak (impact).

Meskipun istilah-istilah tersebut banyak digunakan dalam tulisan-tulisan mengenai evaluasi, tetapi belum ada definisi yang seragam atas istilah-istilah tersebut. Manajemen Berbasis Hasil (Result-Based Management/RBM) menggunakan Model Masukan (Inputs)-Kegiatan (Activities)-Keluaran (Outputs)-Hasil (Outcomes)-Dampak (Impacts), di mana "outcomes" diartikan sebagai pencapaian jangka menengah, dan "dampak" berarti hasil-hasil jangka panjang.

Dalam Model Jalur Dampak (The Impact Pathway) yang digunakan oleh CGIAR, "outcome" didefinisikan sebagai hasil-hasil program yang digunakan, diadopsi atau membawa pengaruh eksternal dan menimbulkan ‘perubahan pengetahuan, identitas (attributes), kebijakan, kapasitas penelitian, praktek-praktek pertanian, produktivitas, keberlanjutan atau faktor-faktor lain yang diperlukan untuk memperoleh dampak yang diinginkan’ (Douthwaite et al, 2006: 9), sementara ‘dampak’ didefinisikan sebagai keuntungan-keuntungan jangka panjang.

Pendekatan Pemetaan Hasil (The Outcome Mapping) yang dikembangkan oleh IDRC merupakan sebuah model yang memfokuskan pada ‘hasil (outcomes)’ yang berupa perubahan tingkah laku, dan ‘dampak’ yang merujuk pada tujuan-tujuan jangka panjang. Meskipun demikian, berbagai tulisan mengenai Pemetaan Hasil seringkali menggunakan istilah ‘hasil’ dan ‘dampak’ secara bergantian sebagai sinonim (Earl, Carden and Smytulo, 2001).

Sedangnya dalam Guidance On Evaluation and Review for DFID Staff disebutkan bahwa istilah dampak menggambarkan pengaruh dari intervensi pembangunan secara menyeluruh, baik itu positif dan negatif, yang disengaja dan tidak disengaja. Dalam hal ini, dampak dilihat lebih luas dan dibedakan dari efektivitas, dimana fokusnya lebih pada dampak yang disengaja dan dampak positif. Penilaian dampak dimulai dari perspektif penerima manfaat atas intervensi pembangunan, dan bergerak untuk melihat bagaimana orang lain dipengaruhi oleh intervensi tsb.

Ketika mempelajari dampak, cukup penting untuk diklarifikasi apakah keterkaitan pengaruh intervensinya mencakup faktor-faktor eksternal lainnya (atribusi kausal)?. Dampak yang berbeda mungkin muncul pada waktu yang berbeda dan mungkin perlu juga dibedakan antara pengaruh jangka pendek dan jangka panjang.

Penggunaan Analisis Dampak

Penggunaan analisis dampak adalah untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi konsekuensi negatif dan positif dari suatu bencana pada sistem alam dan manusia. Sebagai contoh, lingkungan, ekonomi, finansial, dan sosial. Termasuk di dalamnya adalah metodologi dan standar untuk penilaian dampak dan kerusakan.

Keuntungan dari teknik ini adalah identifikasi hubungan antara kerentanan bencana dan dampak akibat bencana dengan kemampuan untuk menciptakan perangkat guna mengukur pengurangan kerentanan pada bencana-bencana tersebut.

Sementara itu, kelemahan teknik ini adalah ketergantungannya pada data sejarah bencana. Keterbatasan ini dituliskan dalam analisis sejarah. Kelemahan lainnya adalah teknik ini berfokus pada penilaian dampak pasca bencana dan tidak dipromosikan penggunaannya sebagai bagian dari proses perencanaan. Meskipun di lain sisi, hasil teknik ini dapat dimasukkan dalam perencanaan mendatang dan akhirnya untuk memenuhi kebutuhan analisis sosial ekonomi akibat bencana. (http://www.disasterassessment.org/section.asp/id)

Indikator Dampak

Indikator Dampak adalah ukuran kuantitatif atau kualitatif (atau keduanya) dimana hasilnya dapat dinilai(berpegaruh secara positif atau negatif ' pada kelompok sasaran). Indikator ini dikembangkan dari hasil atau dampak/tingkatan tujuan. Indikator dampak dapat berupa proses langsung-tidak langsung dan kuantitatif-kualitatif.

  • Indikator Langsung - sederhana dan mudah untuk diukur. Mereka biasanya tepat, menyajikan tujuan masing-masing secara komprehensif.
  • Indikator Tidak Langsung - yang digunakan setelah tujuan/hasilnya tercapai; tidak bisa secara langsung diamati, pengukuran akan membutuhkan biaya yang sangat tinggi, sumber daya untuk mengukur bisa jadi sudah tidak tersedia, atau pencapaian tujuannya adalah hanya bisa diukur setelah waktu yang lama atau jauh setelah kegiatan telah dilakukan.
  • Indikator Kuantitatif - berkaitan dengan jumlah dan jawaban pertanyaan-pertanyaan: siapa, kapan, di mana, seberapa sering dan seberapa banyak? Mereka dinyatakan dalam nomor seperti unit, harga, persentase, waktu, skor atau peringkat.
  • Indikator Kualitatif - berkaitan dengan deskripsi dan jawaban pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana dan mengapa? Bisa juga berwujud penilaian dan dapat dinyatakan sebagai narasi atau dengan menggunakan skoring atau peringkat. Indikator ini bisa juga digunakan untuk mengumpulkan pendapat orang, dan memantau kepuasan dan perubahan yang terjadi. Rekomendasinya adalah, Akan lebih memadai apabila kedua indikator ini digunakan secara seimbang. (Diadaptasi dari Oxfam Disaster Risk Reduction and Climate Change; Adaptation Resources Measuring the Impact of Disaster Risk Reduction: A Learning Companion)


Contoh Pertanyaan standar untuk menggali/mengukur dampak adalah:

  1. Bagaimana intervensi mempengaruhi kesejahteraan berbagai kelompok pemangku kepentingan?
  2. Apa yang akan terjadi tanpa intervensi?
  3. Apa dampak positif dan negatif?
  4. Apakah pengaruh positif lebih besar daripada yang negatif?
  5. Apa pendapat penerima manfaat dan stakeholder lain terhadap efek intervensi pada diri mereka sendiri?
  6. Sejauh mana kontribusi intervensi terhadap pembangunan kapasitas dan penguatan institusi?


Contoh Skala Dampak Kebencanaan dalam bidang ekonomi:

Benson dan Clay (2004) membagi skala dampak dari bencana menjadi 3 bagian. Pertama, dampak langsung dari bencana. Dampak langsung meliputi kerugian finansial dari kerusakan aset-aset ekonomi (misalnya rusaknya bangunan seperti tempat tinggal dan tempat usaha, infrastruktur, lahan pertanian dan sebagaianya). Dalam istilah ekonomi, nilai kerugian ini dikategorikan sebagai stock value. Adanya bencana menyebabkan penurunan stock value dari perekonomian; kedua, dampak tidak langsung. Dampak tidak langsung meliputi terhentinya proses produksi, hilangnya output dan sumber peneriman. Dalam istilah ekonomi, nilai kerugian ini dikategorikan sebagai flow value. Dan, ketiga, Dampak Sekunder (secondary impact) atau dampak lanjutan.

Contoh dari dampak sekunder bisa berwujud terhambatnya pertumbuhan ekonomi, terganggunya rencana-rencana pembangunan yang telah diusun, meningkatnya defisit neraca pembayaran, meningkatnya hutang publik dan meningkatnya angka kemiskinan. (Yayat Supriyatna, 2011)


Penting

Bencana seringkali diidentikkan dengan sesuatu yang buruk, setara dengan istilah disaster dalam Bahasa Inggris. Secara etimologis berasal dari kata DIS yang berarti ”sesuatu yang tidak enak” (unfavorable) dan 'astro' yang berarti ”bintang” (star). Dis-astro berarti an event precipitated by stars (”peristiwa jatuhnya bintang-bintang ke bumi”). (Bahan kajian MK Perencanaan Lingkungan & Pengembangan Wilayah PSDAL-PSLP- PPSUB-OKTOBER 2011. Diabstraksikan oleh Prof Dr Ir Soemarno MS).

Sedangkan UU No 24 Tahun 2007 menyebutkan bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Pranala

Jika Anda merasa konten halaman ini masih belum sempurna, Anda dapat berkontribusi untuk menyempurnakan dengan memperbaiki (Edit) atau memperdalam konten naskah ini. Setelah Anda anggap sempurna, silakan hapus koda template {{sempurnakan}} ini. Atau, Anda dapat mengirimkan perbaikan konten naskah ke bencanapedia@gmail.com..

Terimakasih..