Studi Longitudinal Pasca Erupsi Merapi

From Bencanapedia.ID
Jump to: navigation, search

Studi longitudinal adalah metode survey yang dapat digunakan untuk mengukur kondisi populasi secara periodik terhadap indikator kesejahteraan tertentu seperti pendapatan, belanja, kepemilikan asek, akses terhadap layanan dasar, kesehatan, pendidikan dan indikator laiinya termasuk ketahanan terhadap bencana.

Studi ini digagas oleh Forum PRB DIY dengan tujuan membantu masyarakat dan pemerintah dalam mengukur dampak yang dihasilkan dari kegiatan 'Rehabilitasi-Rekonstruksi Pemulihan Pasca Bencana Erupsi Merapi 2010'. Metode ini dilakukan dalam setiap 3-5 tahun, dengan harapan dapat memberikan gambaran sekaligus dasar untuk pengambilan kebijakan lanjutan untuk usaha-usaha pemulihan pasca bencana yang berjalan.

Studi longitudinal ini telah dituangkan dalam laporan yang berujudul Merapi, Pemulihan Penghidupan Warga Pasca Letusan 2010; Laporan Studi Longitudinal; sebagai salah satu cara untuk mengukur tingkat pemulihan masyarakat yang terdampak bencana. Laporan yang secara rinci memuat latar belakang, metodologi, hingga hasil studi ini disusun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama dengan Merapi Recovery Response (MRR/Disaster Risk Reduction based Rehabilitation Reconstruction (DR4) – UNDP Indonesia, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) DIY dan Forum PRB Jawa Tengah, serta SurveyMeter.

Hasil-hasil studi longitudinal diperuntukkan bagi pemerintah (BNPB/BPBD) sebagai dasar untuk mengukur besarnya dampak kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi. Selain itu, hasil studi longitudinal juga dapat digunakan oleh semua lembaga yang memiliki kepentingan terhadap kegiatan rehabilitasi-rekonstruksi pasca bencana erupsi Merapi 2010.

Dalam perkembangannya, untuk dapat dengan mudah menentukan tingkat pemulihan pasca bencana, tim pelaksana studi menyusun Indeks Pemulihan Kehidupan Pascabencana (Disaster Recovery Index/DRI). Dalam indeks ini, hasil studi longitudinal menjadi input dalam DRI dan DRI disusun sebagai indeks komposit yang memadukan berbagai indikator pemulihan berdasarkan data yang dihasilkan dari studi longitudinal yang berguna untuk melihat sejauh mana pemulihan pasca bencana telah terjadi. DRI juga dapat dijadikan alat pembanding bagi upaya-upaya pemulihan kehidupan pascabencana di tempat-tempat yang terkena dampak bencana.

Langkah penyusunan DRI adalah:

  1. Pemetaan variabel pemulihan yang akan digunakan.
  2. Elaborasi metode, termasuk pembandingan dengan Indeks Perkembangan Penduduk.
  3. Analisis multivarian terhadao indikator terpilih hingga pembobotan dan agregasinya.
  4. Penyajian hasil analisis dalam focus group discussion (FGD) untuk memperoleh umpan balik dari para pembuat kebijakan, akademisi, LSM sebagai masukan dalam penyusunan akhir indeks komposit.

Sementara itu, tolak ukur pemilihan indikatornya mengacu pada relevansi kebijakan dan manfaat bagi pengguna, kekuatan analisis, dapat terukurnya data yang digunakan untuk mengukur indikator. Dari proses penyusunan ini, telah dihasilkan 22 indeks komposit yang tersebar pada masing-masing sektor perumahan, prasarana, ekonomi produktif, sosial dan lintas sektor, serta pembobotannya dalam skala 0-100. Tingkat pemulihan didefinisikan sebagai proporsi antara selisih nilai DRI saat survey dari nilai DRI sesaat setelah bencana dengan selisih nilai DRI sesaat setelah bencana dari nilai DRI sebelum bencana.

Tahapan Pelaksanaan Studi Longitudinal

  1. Perancangan kerangka konseptual.
  2. Operasionalisasi konsep.
  3. Penyusunan instrument pengumpulan data, berupa kuesioner survey yang dirancan untuk menanyakan kondisi masyarakat sebelum terjadinya bencana, setelah terjadinya bencana dan saat survei dilakukan.
  4. Penentuan sampling.
  5. Survei dijalankan pada bulan September 2012; surveini merupakan yang pertama kalinya dari serangkaian survei yang dilakukan secara berkala dalam kerangka studi longitudinal.
  6. Survei dilakukan terhadap 1290 rumah tangga yang tersebar di 43 dusun yang berlokasi di Kabupaten Magelang (51% dari jumlah keseluruhan dusun), Sleman (26%), Klaten (14%) dan Boyolali (9%).