Susilo Bambang Yudhoyono

From Bencanapedia.ID
Jump to: navigation, search

Jika Anda merasa konten halaman ini masih belum sempurna, Anda dapat berkontribusi untuk menyempurnakan dengan memperbaiki (Edit) atau memperdalam konten naskah ini. Setelah Anda anggap sempurna, silakan hapus koda template {{sempurnakan}} ini. Atau, Anda dapat mengirimkan perbaikan konten naskah ke bencanapedia@gmail.com..

Terimakasih..

Peringatan 1 Tahun Tsunami

450 Presiden SBY ucapkan terima-kasih Donor-NGO 1th Tsunami.jpg

  • Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono berterima-kasih kepada komunitas internasional yang telah membantu


SBY: Bantuan Gempa Nabire, Gempa Bertsunami Samudera Hindia, dan Open Sky Policy

Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) on the D-­Day of the Tsunami, baru berusia dua bulan lebih sepekan. Persis di hari dan jam yang sama, Presiden tengah berada di Papua, mengulurkan bantuan kepada penyintas Gempa Nabire.

Di usia Pemerintahan semuda itu mesti menanggulangi bencana yang oleh Menlu AS Colin Powell dikatakan sebagai bencana yang kedahsyatannya belum pernah Ia saksikan sebelumnya. Kesaksian senada dari David Nabarro, direktur urusan bantuan krisis kesehatan di Badan Kesehatan PBB, menyebut skala bencana di Aceh ini sangat besar. Suatu skala yang belum pernah dihadapinya. Tak heran bila operasi tanggap darurat tsunami Samudera Hindia, menjadi operasi nonmiliter terbesar di dunia dalam setengah abad terakhir.

Pandangan Powell dan Nabarro tak berlebihan. Bila kita ingat, sejauh mata memandang hingga radius dua kilometer dari garis pantai, daratan Banda Aceh kala itu rata dengan tanah. Tak kurang dari 28.485 hektare wilayah Aceh atau hampir 40 persen luas DKI Jakarta musnah. Sebagian besar kawasan tersebut, sebelumnya adalah permukiman nelayan dan pusat kegiatan ekonomi seperti pasar, pertokoan, dan dermaga yang padat penduduk. Meski luas daratan yang porak-poranda cuma sebagian kecil dari Nanggroe Aceh Darussalam, namun kontur pesisir yang landai, tanpa perintang, membuat dampak tsunami teramat fatal. Tembok air setinggi pohon kelapa menyuruk ke daratan, secepat pesawat jet. Dampaknya, daratan sepanjang 800 kilometer garis pantai porak poranda. Bahkan 12 negara terdampak, hingga Pantai Somalia di Afrika Timur.

Diperkirakan 160 ribu orang di Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias, Sumatera Utara menjadi korban. Sekira 130 ribu orang di antaranya meninggal dan selebihnya hilang. Lebih dari setengah juta penyintas bernaung di tenda, di tengah sabana-sabana baru yang terbentuk akibat 200 ribu rumahnya musnah dan hancur. Akses transportasi terhambat dengan rusaknya 3.000 kilometer jalan yang diperparah oleh putusnya 120 jembatan. Dipicu sepotong lempeng bumi yang sekira 1.000 tahun lamanya berdiam diri, tiba-tiba bergeser. Sepanjang 1.600 kilometer sisi lempeng yang membentang dari ujung Sumatera hingga Myanmar. Dampaknya, menjadi bencana mematikan terbesar kedua di abad ke 21, setelah gempa bumi pada 1976 di Cina yang diperkirakan menewaskan 255 ribu orang.

Tiba pada tahapan tanggap darurat (emergency response) bencana, situasi juga tak kalah gawat. Sebuah ketidakmenentuan keadaan yang seolah ikut tenggelam digulung ibeuna. Kebijakan politik dan keamanan pemerintah waktu itu masih dalam status Darurat Militer. Meski telah lama tak terdengar bunyi letupan senjata dan insiden berdarah, TNI masih dalam posisi siaga terhadap GAM. Patut disyukuri, pelajaran mahal bencana tsunami, telah membuka dialog Pemerintah dan GAM yang berujung di meja perundingan damai Helsinki, 15 Agustus 2005.

Bila proses politik telah final, bagaimana halnya dengan pemulihan (rehab-rekon) bencana? Ini juga sesuatu yang patut disyukuri. Respon cepat pemerintah, dalam memutuskan open sky policy kurang dari 2 x 24 jam, membuat ratusan pesawat logistik pembawa bantuan negara sahabat kian leluasa mendarat: lusinan hovercraft, satu kapal induk USS Abraham Lincoln, sebuah Rumah Sakit Apung Federation Red Cross. Heli-heli Chinook Singapur yang merapat paling awal, menerjunkan berton-ton bahan pangan, dan peralatan medis. Kebijakan Presiden RI tersebut menyelamatkan keadaan agar tidak terjerumus kepada kondisi lebih buruk. Tidak seperti bencana di Haiti setahun sebelumnya. Ketika operasi penanggulangan bencana terlambat hingga kolera mewabah.

Sumber

  • Antono, Ben. 2011. Antologi 25 Esei Terpilih Jurnalistk Fikom-UNPAD. hlm. 259-277. Bandung: Keluarga Alumni Jurnalistik UNPAD
  • Tim Penulis Buku Presiden RI. 2008. Habis Bencana Terbitlah Terang. Jakarta: BRR NAD-Nias