Tingkat Peringatan Bahaya

From Bencanapedia.ID
Jump to: navigation, search

Jika Anda merasa konten halaman ini masih belum sempurna, Anda dapat berkontribusi untuk menyempurnakan dengan memperbaiki (Edit) atau memperdalam konten naskah ini. Setelah Anda anggap sempurna, silakan hapus koda template {{sempurnakan}} ini. Atau, Anda dapat mengirimkan perbaikan konten naskah ke bencanapedia@gmail.com..

Terimakasih..

Indonesia adalah negeri yang rawan bencana geologis gempabumi, tanah longsor, erupsi gunungapi, dan tsunami. Sebagai konsekuensi kewajiban negara untuk melindungi rakyatnya maka pemerintah diharapkan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengurangi risiko dan mempunyai rencana keadaan darurat untuk meminimalkan dampak bencana. Menurut UU No.24 2007 Pasal 44; Penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam situasi terdapat potensi terjadi bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 huruf b meliputi: kesiapsiagaan, peringatan dini, dan mitigasi bencana.

Peringatan dini sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 huruf b dilakukan untuk pengambilan tindakan cepat dan tepat dalam rangka mengurangi risiko terkena bencana serta mempersiapkan tindakan tanggap darurat. Peringatan dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui : (a) pengamatan gejala bencana (b) analisis hasil pengamatan gejala bencana (c) pengambilan keputusan oleh pihak yang berwenang (d) penyebarluasan informasi tentang peringatan bencana dan (e) pengambilan tindakan oleh masyarakat.

Peringatan dini merupakan faktor utama dalam pengurangan risiko bencana. Peringatan dini dapat mencegah korban jiwa dan mengurangi dampak ekonomi dan material dari sebuah bencana. Agar berjalan efektif, sistem peringatan dini harus melibatkan masyarakat secara aktif, memfasilitasi pendidikan dan kesadaran masyarakat tentang risiko yang dihadapi, menyebarluaskan pesan dan peringatan secara efektif, serta menjamin kesiapsiagaan yang selalu terjaga.

Pengertian

Dalam Pedoman Peringatan Dini Tsunami (INATEWS - Badan Meteorologi Klimatolodi d& Geofisika, 2012) disebutkan bahwa “Peringatan dini (Early Warning System/EWS) adalah kombinasi kemampuan teknologi dan kemampuan masyarakat untuk menindaklanjuti hasil dari peringatan dini tersebut. Peringatan dini sebagai bagian dari pengurangan risiko bencana tidak hanya mengenai peringatan yang akurat secara teknis, tetapi juga harus membangun pemahaman risiko yang baik dari suatu peringatan, menjalin hubungan antara penyedia dengan pengguna peringatan, dan juga meningkatkan kemampuan otoritas dan masyarakat untuk bereaksi secara benar terhadap peringatan dini. Jika salah satu komponen tersebut tidak terpenuhi, maka sistem peringatan dini tidak akan berhasil secara keseluruhan.”

Tujuan dari pengembangan sistem peringatan dini yang terpusat ke masyarakat

adalah untuk memberdayakan individu dan masyarakat yang terancam bahaya untuk bertindak dalam waktu yang cukup dan dengan cara-cara yang tepat untuk mengurangi kemungkinan terjadinya korban luka, hilangnya jiwa, serta rusaknya harta benda dan lingkungan.

Suatu sistem peringatan dini yang lengkap dan efektif terdiri atas empat unsur yang saling terkait, mulai dari pengetahuan tentang bahaya dan kerentanan, hingga kesiapan dan kemampuan untuk menanggulangi. Pengalaman baik dari sistem peringatan dini juga memiliki hubungan antar-ikatan yang kuat dan saluran komunikasi yang efektif di antara semua elemen tersebut.

  • Pengetahuan tentang Risiko
    Risiko akan muncul dari kombinasi adanya bahaya dan kerentanan di lokasi tertentu. Kajian terhadap risiko bencana memerlukan pengumpulan dan analisis data yang sistematis serta harus mempertimbangkan sifat dinamis dari bahaya dan kerentanan yang muncul dari berbagai proses seperti urbanisasi, perubahan pemanfaatan lahan, penurunan kualitas lingkungan, dan perubahan iklim. Kajian dan peta risiko bencana akan membantu memotivasi orang, sehingga mereka akan memprioritaskan pada kebutuhan sistem peringatan dini dan penyiapan panduan untuk mencegah dan menanggulangi bencana.
  • Pemantauan dan Layanan Peringatan
    Layanan peringatan merupakan inti dari system harus ada dasar ilmiah yang kuat untuk dapat memprediksi dan meramalkan munculnya bahaya, dan harus ada sistem peramalan dan peringatan yang andal yang beroperasi 24 jam sehari. Pemantauan yang terus-menerus terhadap parameter bahaya dan gejala-gejala awalnya sangat penting untuk membuat peringatan yang akurat secara tepat waktu. Layanan peringatan untuk bahaya yang berbeda-beda sedapat mungkin harus dikoordinasikan dengan memanfaatkan jaringan kelembagaan, prosedural, dan komunikasi yang ada.
  • Penyebarluasan dan Komunikasi
    Peringatan harus menjangkau semua orang yang terancam bahaya. Pesan yang jelas dan berisi informasi yang sederhana namun berguna sangatlah penting untuk melakukan tanggapan yang tepat, yang akan membantu menyelamatkan jiwa dan kehidupan. Sistem komunikasi tingkat regional, nasional, dan masyarakat harus diidentifikasi dahulu, dan pemegang kewenangan yang sesuai harus terbentuk. Penggunaan berbagai saluran komunikasi sangat perlu untuk memastikan agar sebanyak mungkin orang yang diberi peringatan, guna menghindari terjadinya kegagalan di suatu saluran, dan sekaligus untuk memperkuat pesan peringatan.
  • Kemampuan Penanggulangan
    Sangat penting bahwa masyarakat harus memahami bahaya yang mengancam mereka; dan mereka harus mamatuhi layanan peringatan dan mengetahui bagaimana mereka harus bereaksi. Program pendidikan dan kesiapsiagaan memainkan peranan penting di sini. Juga penting bahwa rencana penanganan bencana dapat dilaksanakan secara tepat, serta sudah dilakukan dengan baik dan sudah teruji. Masyarakat harus mendapat informasi selengkapnya tentang pilihan-pilihan untuk perilaku yang aman, ketersediaan rute penyelamatan diri, dan cara terbaik untuk menghindari kerusakan dan kehilangan harta benda.

BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dann Geofisika)

Adalah lembaga pemerintah yang bertanggungjawab untuk “BMKG menyediakan berita gempabumi dan berita peringatan dini tsunami serta menyampaikannya kepada institusi terkait, di antaranya BNPB, pemerintah daerah dan media yang kemudian menyampaikan dan ditindaklanjuti oleh masyarakat. Pemerintah daerah diharapkan dapat membuat keputusan evakuasi jika diperlukan.”

BMKG memilik prosedur standart dalam menyampaikan peringatan Dini keberbagai institusi perantara, dimana dalam penyampaian peringatan dini dibagi menjadi 4 tahap : Tahap/Tingkat Peringatan Dini BMKG

  1. Peringatan Dini 1: Memuat informasi parmeter gempa, waktu terjadi, posisi episenter (lintang, bujur), kedalaman, kekuatan, skala intensitas dibeberapa lokasi dan potensi tidak terjadi/terjadi tsunami, serta tingkat ancaman tsunami.
  2. Peringatan Dini 2: Memuat informasu perkiraan ketinggian landaan tsunami serta perkiraan waktu dan kawasan yang akan terlanda tsunami
  3. Peringatan Dini 3: Memuat informasi kondisi kejadian tsunami pada daerah-daerah lain yang terlanda tsunami
  4. Peringatan Dini 4: Memuat informasi bahaya tsunami sudah berakhir

Sedangkan tingkat peringatan dan saran yang dikeluarkan dari BMKG berdasarkan draft Pedoman Pelayanan Peringatan Dini Tsunami BMKG 2010 adalah sebagai berikut;

Tingkat Peringatan Dini Tsunami BMKG

Tingkat Peringatan Tinggi Gelombang Saran
AWAS > 3 meter Melakukan evakuasi missal sesuai dengan jalur evakuasi yang telah ditentukan menuju tempat penyelamatan
SIAGA 0.5 - 3 meter Melakukan Evakuasi masyarakat disekitar wilayah pantai menuju tempat yang diperkirakan aman dari tsunami
WASPADA 0 - 0.5 meter Yang dilakukan adalah menjauhi wilayah pantai

Masalah yang perlu diperhatikan dan dimasukkan dalam pertimbangan ketika merancang serta memelihara suatu sistem peringatan dini yang efektif adalah: Pengaturan institusional dan kepemerintahan yang efektif. Pendekatan multi-bahaya, Keterlibatan masyarakat lokal, Pertimbangan persektif jender dan keragaman budaya setempat

Bacaan

  • UU No 24 Tahun 2007
  • Pedoman Peringatan Dini Tsunami (INATEWS - BMKG, 2012)
  • www.gitews.org/tsunami-kit
  • dll