Transfer Risiko

From Bencanapedia.ID
Jump to: navigation, search

Transfer Resiko Pengertian Resiko adalah Gabungan antara kemungkinan terjadinya suatu peristiwa dan dampak-dampak negatif yang ditimbulkannya. Kata “risiko” mempunyai dua konotasi yang berbeda: dalam pemakaian popular, penekanan biasanya pada konsep kesempatan atau kemungkinan, seperti “risiko terjadinya kecelakaan,” sementara dalam situasi teknis penekanan biasanya pada akibatnya terkait dengan “potensi kerugian” untuk penyebab-penyebab, tempat dan periode tertentu. Bisa dicatat bahwa masyarakat tidak mempunyai persepsi yang sama tentang arti penting dan penyebab-penyebab mendasar berbagai risiko.Lihat istilah lain yang berkenaan dengan risiko dalam Sedangkan yang dimaksud sebagai Risiko bencana adalah Potensi kerugian yang diakibatkan bencana terhadap nyawa, status kesehatan, penghidupan, aset dan layanan yang dapat terjadi pada satu komunitas atau masyarakat tertentu selama jangka waktu tertentu di masa mendatang. Definisi risiko bencana mencerminkan konsep bencana sebagai hasil dari kondisi risiko yang selalu ada. Risiko bencana terdiri dari berbagai jenis potensi kerugian yang seringkali sulit untuk dikuantifikasikan. Namun demikian, dengan pengetahuan tentang ancaman bahaya-ancaman bahaya yang ada dan pola-pola perkembangan penduduk dan pembangunan sosial ekonomi, risiko bencana bisa dikaji dan dipetakan, paling tidak secara luas.

JENIS-JENIS RESIKO(dalam konteks kebencanaan)

Risiko ekstensif  : Risiko yang menyebar yang berkaitan dengan keterpaparan penduduk yang terpencar-pencar terhadap kondisi ancaman bahaya yang berulang atau yang selalu ada dengan intensitas rendah atau sedang, yang seringkali sangat bersifat tempatan dan bisa menimbulkan dampak bencana kumulatif yang merusak. Risiko ekstensif terutama menjadi karakteristik wilayah-wilayah pedesaan dan pinggir-pinggir perkotaan dimana masyarakat terpapar pada dan rentan terhadap banjir setempat yang berulang-ulang terjadi, badai tanah longsor atau kekeringan. Risiko ekstensif seringkali dikaitkan dengan kemiskinan, urbanisasi dan degradasi lingkungan.

Risiko intensif : Risiko yang berkaitan dengan keterpaparan kumpulan besar penduduk dan aktivitas-aktivitas ekonomi terhadap peristiwa ancaman bahaya intens, yang berpotensi menimbulkan dampak bencana yang menghancurkan termasuk kematian dan hilangnya aset dalam tingkat tinggi. Risiko intensif merupakan karakteristik utama kota-kota besar atau wilayah-wilayah yang padat penduduk yang bukan saja terpapar pada ancaman bahaya-ancaman bahaya intensif seperti gempa bumi kuat, gunung api aktif, banjir besar, tsunami atau badai-badai besar namun jua mempunyai tingkat kerentanan yang tinggi pada ancaman-ancaman bahaya tersebut.

Resiko Residual : Risiko yang tetap ada dalam bentuk yang tidak bisa dikelola, meskipun sudah ada langkah-langkah pengurangan risiko bencana yang efektif, dan yang mengharuskan tetap dijaganya kapasitas respons keadaan darurat dan pemulihan. Adanya risiko residual menunjukkan adanya kebutuhan terus menerus untuk mengembangkan dan mendukung kapasitas yang efektif untuk layanan keadaan darurat, kesiapsiagaan, respons dan pemulihan bersama dengan kebijakan-kebijakan sosial ekonomi seperti jaring pengaman dan mekanisme transfer risiko. Resiko yang dapat diterima Tingkat potensi kerugian yang dianggap bisa diterima oleh sebuah masyarakat atau komunitas dengan mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, politis, budaya, teknis dan lingkungan yang ada. Dalam istilah teknik rekayasa, risiko yang dapat diterima juga digunakan untuk mengkaji dan menetapkan langkah-langkah struktural dan nonstruktural yang diperlukan untuk mengurangi kemungkinan bahaya pada penduduk, harta benda, layanan dan sistem hingga pada tingkat tertentu yang dikehendaki yang dapat ditoleransi, sesuai dengan kode-kode atau “praktik yang dapat diterima” yang didasarkan pada probabilitas-probabilitas yang sudah diketahui tentang ancaman bahaya dan faktor-faktor lain.

Manajemen Resiko : Adalah pendekatan dan praktik sistematis dalam mengelola ketidakpastian untuk meminimalkan potensi kerusakan dan kerugian. Manajemen risiko terdiri dari pengkajian risiko dan analisis risiko, dan pelaksanaan strategi-strategi dan aksi-aksi khusus untuk mengendalikan, mengurangi dan mengalihkan risiko. Lembaga-lembaga secara luas melakukan upaya untuk meminimalkan risiko dalam keputusan inventasi dan untuk menangani risiko-risiko operational seperti gangguan terhadap usaha, kegagalan produksi, kerusakan lingkungan, dampak dan kerusakan karena kebakaran dan ancaman bahaya alam. Manajemen risiko merupakan satu isu utama untuk sektor-sektor seperti pasokan air, energi dan pertanian yang produksinya dipengaruhi langsung oleh cuaca dan iklim ekstrem.

Sedangkan, Manajemen risiko bencana adalah Proses sistematis dalam menggunakan peraturan administratif, lembaga dan ketrampilan serta kapasitas operasional untuk melaksanakan strategi-strategi, kebijakan-kebijakan dan kapasitas bertahan yang lebih baik untuk mengurangi dampak merugikan yang ditimbulkan ancaman bahaya dan kemungkinan bencana. Istilah ini merupakan perluasan dari istilah “manajemen risiko” yang lebih luas untuk mencakup isu-isu khusus tentang risiko bencana. Manajemen risiko bencana bertujuan untuk menghindari, mengurangi atau mengalihkan dampak-dampak merugikan yang diakibatkan ancaman bahaya- ancaman bahaya melalui aktivitas-aktivitas dan langkah-langkah untuk pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan.

Beberapa model Manajemen risiko bencana

Korektif; Aktivitas pengelolaan yang mengatasi dan berupaya untuk mengkoreksi atau mengurangi risiko bencana yang sudah ada. Konsep ini bertujuan untuk membedakan antara risiko-risiko yang sudah ada dan yang perlu dikelola dan dikurangi saat ini serta risiko-risiko prospektif yang mungkin bisa berkembang di masa mendatang apabila tidak ada kebijakan-kebijakan pengurangan risiko Prospektif; Aktivitas-aktivitas pengelolaan yang menangani dan berupaya menghindarkan berkembangnya risiko bencana baru atau meningkatnya risiko bencana. Konsep ini lebih fokus untuk membahas risiko-risiko yagn bisa berkembang di masa mendatang jika tidak ada kebijakan-kebijakan pengurangan risiko daripada risiko-risiko yang sudah ada dan yang dapat dikelola dan dikurangi saat ini.

Tahap-tahap dalam manajemen risiko

Tahap-tahap yang dilalui oleh perusahaan dalam mengimplementasikan manajemen risiko adalah mengidentifikasi terlebih dahulu risiko-risiko yang mungkin akan dialami oleh perusahaan, setelah mengidentifikasi maka dilakukan evaluasi atas masing-masing risiko ditinjau dari severity (nilai risiko) dan frekuensinya. Tahap terakhir adalah pengendalian risiko. Dalam tahap pengendalian risiko dibedakan menjadi 2 yakni pengendalian fisik (risiko dihilangkan, risiko diminimalisir) dan pengendalian finansial (risiko ditahan, risiko ditransfer). Menghilangkan risiko berarti menghapuskan semua kemungkinan terjadinya kerugian misalnya dalam mengendarai mobil di musim hujan, kecepatan kendaraan dibatasi maksimum 60 km/jam. Meminimasi risiko dilakukan dengan upaya-upaya untuk meminimumkan kerugian misalnya dalam produksi, peluang terjadinya produk gagal dapat dikurangi dengan pengawasan mutu (quality control). Menahan sendiri risiko berarti menanggung keseluruhan atau sebagian dari risiko, misalnya dengan cara membentuk cadangan dalam perusahaan untuk menghadapi kerugian yang bakal terjadi (retensi sendiri). Sedangkan pengalihan/transfer risiko dapat dilakukan dengan memindahkan kerugian/risiko yang mungkin terjadi kepada pihak lain, misalnya perusahaan asuransi.

Pengalihan risiko(transfer resiko)

Proses pengalihan konsekuensi finansial yang ditimbulkan risiko-risiko tertentu secara formal maupun informal dari satu pihak ke pihak lain dimana sebuah rumah tangga, komunitas, badan usaha atau kewenangan negara akan mendapatkan sumber daya dari pihak lain setelah sebuah bencana terjadi, sebagai ganti atas manfaat sosial atau finansial yang sedang berjalan atau yang bersifat sebagai kompensasi yang diberikan kepada pihak lain tersebut. Asuransi merupakan satu bentuk pengalihan risiko yang dikenal baik, sementara pertanggungan risiko diperoleh dari perusahaan asuransi sebagai ganti atas premi yang masih dibayarkan pada perusahaan asuransi. Pengalihan risiko dapat dilakukan secara informal dalam keluarga dan jaringan komunitas dimana ada harapan untuk saling memberikan bantuan melalui hadiah atau kredit serta secara formal dimana pemerintah, perusahaan asuransi, bank multilateral dan entitas pertanggungan risiko besar lain membentuk mekanisme untuk membantu bertahan atau mengatasi kerugian karena peristiwa-peristiwa besar. Mekanisme-mekanisme seperti itu antara lain adalah kontrak asuransi dan re-asuransi, obligasi bencana, fasilitas kredit kontinjen dan dana cadangan, dimana biaya dicakup secara berurutan oleh premi, kontribusi investor, tingkat bunga dan past savings.


Bacaan :

1. Terminology on Disaster Risk Reduction.the United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR) developed a UNISDR, 2009 2. http://soemarno.multiply.com/analisis risiko 3. Tjandra Yoga Aditama & Tri Hastuti (Ed.). 2002. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia