ERRA Pakistan

From Bencanapedia.ID
Jump to: navigation, search
ERRA

Earthquake Reconstruction & Rehabilitation Authority

211130-ERRA Logo40x40x50pct.jpg

Kantor Pusat
Islamabad, Pakistan

Kepala Badan
Letnan Jenderal Akthar Nawaz

Alamat dan Kontak

Kepala Staf
Brigadir Jenderal Ahsan Waqas

P/@: +92-51-9030813; cos@erra.gov.pk


Laman Resmi
www.erra.gov.pk


Belajar dari Pakistan: Membangun 600.000 Rumah di Kaki Langit

“Anda tahu, kalau pembangunan dikerjakan oleh si pemilik rumah, pasti mereka ingin yang terbaik dan secepat mungkin. Berbeda jika dikerjakan pihak lain. Itu juga sebenarnya yang Anda jalankan dalam Gempa Jogja (Gempa 2006 Jogja-Jateng). Makanya mereka juga cepat bangkit. Tapi ini memang soal pendekatan yang berbeda sejak awalnya,” tutur Director General Monitoring Evaluation Wing, Niazi Sher Afgankhan kepada penulis. Perwira tinggi berpangkat Brigadir Jenderal itu dalam lawatannya Senin-Sabtu 22-27 Oktober 2007, memimpin tim Monitoring Evaluation (Monev) Earthquake Reconstruction & Rehabilitation Authority (ERRA) untuk studi banding ke Aceh. Berkunjung ke segenap mitra pelaksana pemulihan, khususnya untuk berbagi pengetahuan dengan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias (BRR) pada pasca gempa bertsunami Samudera Hindia 2004.

ERRA adalah badan semacam BRR yang dibentuk Pemerintah Pakistan untuk memulihkan dampak gempa 8 Oktober 2005 di Pakistan. Didirikan 24 Oktober 2005 dengan masa tugas 4-5 tahun. Kekhasan lembaga dari negeri dengan rezim militer kuat ini, selalu melibatkan engineering specialist dari kalangan militer dalam pemulihan pasca gempa berkekuatan 7,6 skala Richter itu. Badan di bawah naungan lembaga Sekretariat Perdana Menteri Pakistan yang berkantor di ibukota Islamabad tersebut, bertugas mengomando pemulihan sembilan kabupaten/kota (distrik). Luas wilayah operasinya 30.000 kilometer persegi daratan yang diguncang gempa bumi terburuk dalam sejarah negeri di jazirah Asia Selatan itu. Total kerugian ditaksir USD 6,2 miliar, sementara anggaran ERRA (per 2007) berkisar USD 2 miliar.

Training Center, 600.000 Unit, Tipe 40

Pilihan pendekatan pembangunan 600.000 rumah yang rusak berat dan hancur total, memang serupa dengan BRR, yakni pendekatan berbasis komunitas (community driven). Bedanya, ERRA sama sekali tidak melibatkan kontraktor, kecuali untuk bangunan publik seperti 6.298 sekolah, 782 fasilitas kesehatan yang turut hancur. Termasuk 70 persen fasilitas sanitasi dan air (watsan), telekomunikasi, dan infrastruktur berikut terhempasnya 6.400 kilometer jalan. Khusus untuk pembangunan rumah warga, dana perbaikannya diberikan langsung kepada setiap kepala keluarga (KK) pemilik rumah. Komunitas juga diberdayakan untuk bergotong-royong membangun kembali permukiman mereka. Pembangunan lebih dari setengah juta rumah itu, menurut Brigjend. Niazi, dimulai sejak Mei 2006 hingga Maret 2008 (21 bulan).

Standar rumah minimal tipe 40 dan dirancang tahan gempa. Penyaluran dana dilakukan dalam tiga termin: pasca evaluasi pembangunan fondasi, kerangka, dan atap rumah. Usai lolos supervisi tim monev di setiap tahap, dana baru ditransfer dari bank ke setiap rekening KK. Jadi peran Civil Society Organization (CSO) seperti LSM, ormas, dalam hal ini memang minim, alih-alih pelibatan kontraktor.

Untuk itulah ERRA harus merancang pusat-pusat pelatihan (training centre) di level setara kecamatan (sub district) bagi 375.000 orang, baik warga maupun tukang bangunan untuk belajar pasang batu, perkayuan, listrik, dan perpipaan sesuai standar ERRA.



211206-ERRA-Kashmir70pct-2 BEFORE Landslide.jpg

Penampakan Kashmir Sebelum Bencana


211206-ERRA-Kashmir70pct-1 AFTER Lanslide.jpg

Penampakan Kashmir Sesudah Bencana

Medan Bersalju

Salju yang turun setiap Oktober, dan baru berhenti setiap April menyebabkan waktu pembangunan apapun hanya bisa berlangsung 6-8 bulan dalam setahun. Empat hingga enam bulan sisanya, daratan tertutup salju. Cuaca berubah menjadi sangat dingin. Kalaupun tidak, sering timbul tanah longsor seperti terjadi di desa Hattian Balla, salah satu dari sepuluh distrik negara bagian Azad Jammu dan Kashmir (AJK) itu. Sebuah kawasan pedesaaan berjarak 19 km dari kota terdekat Muzaffarabad.

Dampak ikutan Gempa Kashmir 8 Oktober 2005 di sekira 105 km utara Ibukota Islamabad itulah yang memicu Bencana Tanah Longsor terbesar dalam sejarah negara federal tersebut. Beberapa ahli bahkan menyebut sebagai bencana tanah longsor terbesar di dunia. ERRA sendiri menyebut skala tugasnya sebagai "mammoth task". Runtuhnya batuan purba periode meiosen di Pegunungan Kashmir itu meratakan kawasan desa-desa di lembahnya. Akibatnya sekira 300 orang terkubur hidup-hidup. Longsor dalam skala lereng gunung tersebut Hanya berselang 3-4 hari usai Gempa Kashmir yang menewaskan 73.338 orang itu. Para korban longsor umumnya petani dan peternak tradisional. Naasnya, bencana terburuk dalam sejarah Pakistan tersebut turut menewaskan 18.000 pelajar dan 9.000 guru yang tengah belajar di dalam kelas.

Iklim dan medan berat memang akrab bagi warga Pakistan. Sekira 40 persen wilayah pemulihan gempa tersebut berada di ketinggian 5.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), bahkan beberapa wilayah berada di ketinggian 7.000-8.000 mdpl bermedan salju.

Sistem Pengawasan

Untuk memastikan proses pemulihan yang sedemikian luas rentang cakupan wilayah, program, dan proyek di 12 sektor pemulihan, dengan tantangan alam yang berat, pola pengawasan ERRA dilakukan secara berjenjang dan terpisah.

Pengawasan Terpisah (separated monitoring) meliputi:

  1. Pengawasan Perencanaan (Planning monitoring);
  2. Pengawasan Pelaksanaan (Implementation monitoring);
  3. Pengawasan Pembangunan (Construction monitoring);
  4. Pengawasan Penyaluran Bantuan (Service Delivery monitoring);
  5. Pengawasan Dampak Sosial (Social Impact monitoring).

Setiap tingkatan terdiri dari 15-20 personil pengawas di tujuh kabupaten (distrik) dari keseluruhan sembilan distrik wilayah kerja ERRA.

Saat menutup perbincangan, dalam bahasa Inggris beraksen Urdu---bahasa keseharian mereka---Brigjend. Niazi berpesan, “People always need a miracle, but the government and all partner plan a long term and sustainable target for the future. Blaming (the other) is the easiest thing”. Tantangan serupa yang dihadapi ERRA, BRR, (kini oleh BNPB), FEMA di AS, dan badan kebencanaan lain. Salah satu tesis pokoknya adalah menjaga neraca kesetimbangan antara harapan warga yang ingin dengan cepat kembali dalam situasi normal, sementara perencanaan pemulihan dalam pendekatan pengurangan risiko bencana membutuhkan waktu lebih lama dan memakan biaya lebih besar.

Box ERRA

2007

Visi

“Convert this Adversity into an Opportunity for the people impacted by the disaster”

Misi

“Build back better the physical assets, social-economy, and environment in a sustainable way"

Program Sektoral

  1. Perumahan;
  2. Mata Pencaharian;
  3. Pendidikan;
  4. Kesehatan;
  5. Air & Sanitasi;
  6. Bangunan Pemerintah;
  7. Energi;
  8. Transportasi;
  9. Komunikasi;
  10. Perlindungan Sosial;
  11. Lingkungan;
  12. Pariwisata

Sasaran Pemulihan

  1. Rumah pedesaan 585.875 unit;
  2. Rumah perkotaan 25.397 unit;
  3. Perencanaan kota 4 kota;
  4. Fasilitas pendidikan 6.298 unit;
  5. Fasilitas kesehatan 305 unit;
  6. Bangunan pemerintah 949 unit;
  7. Jaringan jalan 6.305 km;
  8. Air & sanitasi 3.994 unit

2021

(terdapat perubahan Pernyataan Misi dll)

Misi

ERRA’s mission is to “Convert this Adversity into an Opportunity” by reconstructing the lost and destroyed facilities, while following highest standards of reconstruction and rehabilitation with the obligation to “Build Back Better”.

Amanat dan Peran

Peran utama ERRA adalah perencanaan makro, pengembangan strategi sektoral, pembiayaan, persetujuan proyek, dan pemantauan-evaluasi. Selain itu, memastikan koordinasi yang diperlukan dan memberikan fasilitasi kepada mitra pelaksana, sedangkan pelaksanaan fisik proyek menjadi tanggung jawab pemerintah masing-masing negara bagian.

Lingkup Rekonstruksi dan Rehabilitasi

ERRA telah melakukan intervensi di 12 sektor berbeda, 3 program lintas sektor, dan diperlukan untuk merekonstruksi lebih dari 13.000 proyek, dengan biaya lebih dari USD 5 miliar yang berlokasi di lebih dari 30.000 kilometer persegi dari sembilan distrik AJ&K dan Khyber Pakhtunkhwa.

Peran Kebijakan Pemerintah Provinsi dan Negara Bagian

Selain perumusan kebijakan, ERRA telah membatasi perannya untuk mengembangkan strategi sektoral, persetujuan proyek, pembiayaan, koordinasi, pemantauan, dan evaluasi kegiatan rekonstruksi di daerah yang terdampak. Pelaksanaan strategi yang telah disetujui diatur melalui mekanisme devolusi dengan kekuasaan maksimum berada di tangan pemerintah Provinsi/Negara Bagian dan Kabupaten. Di tingkat Provinsi dan Negara Bagian, kedua pemerintah telah membentuk Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Gempa Provinsi (PERRA) dan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Gempa Negara Bagian (SERRA). Mereka bertindak sebagai Sekretariat untuk Komite Pengarah Provinsi/Negara Bagian. Komite-komite tersebut dipimpin oleh masing-masing Kepala Sekretaris dengan perwakilan sekretaris dari semua departemen terkait dan perwakilan dari Sayap Perencanaan ERRA. Forum-forum tersebut memiliki mandat untuk menyetujui Rencana Kerja Tahunan pemerintah masing-masing yang diterima oleh mereka dari masing-masing kabupaten yang terdampak. Mereka memiliki kekuatan finansial untuk menyetujui setiap proyek rekonstruksi yang menelan biaya hingga Rupe 250 juta. Mandat utama pelaksanaan semua proyek rekonstruksi terletak pada forum-forum ini.

Peran Pemerintah Kabupaten

Pemerintah Provinsi dan Negara Bagian telah membentuk Unit Rekonstruksi Distrik (DRU) di setiap kabupaten yang terdampak. DRU bertindak sebagai Sekretariat Komite Penasihat Rekonstruksi Distrik (DRAC). Dipimpin oleh Nazim (Kepala) Distrik di setiap distrik Khyber Pakhtunkhwa dan Wakil Komisaris di AJ&K dengan perwakilan dari semua departemen terkait di distrik dan perwakilan terpilih. Setiap DRAC berwenang untuk menyetujui proyek hingga Rupe 100 juta dan memrioritaskan kegiatan rekonstruksi sesuai kebutuhan dan persyaratan mereka. Mereka kembangkan Rencana Kerja Tahunan dan menyerahkannya kepada PERRA/SERRA, tergantung pada kasusnya.

Sumber

  1. Antono, Ben, 2007. Laporan PENALA: Studi Banding ERRA Pakistan ke BRR NAD-Nias Indonesia. Banda Aceh-Jakarta: Direktorat Donor-Direktorat Komunikasi BRR NAD-Nias.
  2. http://www.erra.gov.pk/aboutus/erra.asp#Mission
  3. https://en.wikipedia.org/wiki/Earthquake_Reconstruction_%26_Rehabilitation_Authority
  4. https://pubs.usgs.gov/of/2006/1052/pdf/ofr-2006-1052.pdf
  5. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4556441/